Wawancara dengan Shella, Duta Pariwisata Aceh 2011 PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

Siapa yang tak kenal Tasya Meishella Aditya atau yang biasa disapa Shella, si Duta Pariwisata Aceh 2011.

Cewek kelahiran Kisaran, 8 mei 1995 ini, baru saja memenangkan ajang Duta Pariwisata untuk tingkat provinsi Aceh. Dan bulan Desember 2011 nanti, ia bersama pasangannya akan mewakili Aceh, ke Palu, Sulawesi Tengah untuk memperebutkan gelar Duta Pariwisata Indonesia.

 

 

Ditanya soal Duta Pariwisata ini, ia berbicara banyak saat diwawancara. Inilah wawancara dengannya dengan Rifqha Aulia dari Lembaga Pers Siswa Independen (LPSI) Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe.

 

 

Kapan pertama kali kamu menjajaki dunia ini?

Awal aku masuk dunia ini tuh sekitar kelas 2 SD. Nah aku udah ikut fashion show. Dari SD-SMP, yang dinilai itu hanya busana dan cara berjalan (catwalk). Nah, ketika SMA itu lebih sulit. Bukan hanya busana dan catwalk yang menjadi penilaian. Kemampuan dan wawasan di berbagai aspek bidang juga menjadi penilaian penting. Baik itu pengetahuan umum, agama dan sebagainya.

 

 

Gimana nih, kok kamu bisa kepilih jadi Duta Pariwisata Aceh 2011?

Sekedar mau klarifikasi juga, untuk bulan Januari yang lalu aku memang kepilih jadi Duta Pariwisata untuk tingkat Lhokseumawe. Sebenarnya itu bukan Duta Pariwisata, tapi Duta Aceh Damai. Ada kekeliruan disini. Untuk Duta Pariwisata ini sendiri, sekitar 4 hari sebelum ajang di tingkat provinsi aku dapet telpon dari pasangan aku. Dia menanyakan apakah aku bersedia menjadi Duta Pariwisata untuk tingkat Lhokseumawe yang akan mewakili Lhokseumawe di tingkat provinsi dengan persiapan mepet, hanya 4 hari. Nah, awalnya aku sempat pikir bisa ngga sih? Tapi, aku juga mikir ini kesempatan aku untuk belajar dan menambah pengalaman. Akhirnya, aku terima tawaran itu dengan prinsip kalah ataupun menang ngga masalah, yang penting aku udah jadi anggota Duta Pariwisata Aceh itu udah ngebanggain banget buat aku.

 

 

Apa alasan kamu ikut ajang ini?

Iya itu tadi sih. Tambahan sedikit, aku juga pengen banget dapet lebih banyak pengalaman lagi. Sekalian aku belajar juga sih. Intinya itu kesempatan, kapan lagi sih kita dapet kesempatan kayak gini lagi?

 

 

Saat di Banda Aceh, jumlah pesertanya itu berapa?

Rame. Dari semua kabupaten di Aceh kecuali Aceh tenggara dan Aceh Singkil. Ada 21 pasanganlah.

 

 

Gimana nih perasaan kamu ketika kamu terpilih jadi Duta Pariwisata Aceh 2011 ?

Dari awal, aku udah mulai menilai lawan. Nah, setelah ngeliat lawan aku yakinin diri aku sendiri kalo aku bisa masuk 6 besar. Alhamdulillah, aku masuk 6 besar. Saat di 6 besar, aku berharap agar aku ngga dapet juara harapan. Dan Alhamdulillah, akhirnya aku kepilih jadi juara I. Senenglah pastinya.

 

 

Materi apa aja nih yang kamu dapat selama dikarantina disana?

Kalo materi sih, ngga banyak ya. Kami belajar tentang kekompakan dan kekeluargaan aja sih. Nah, kami juga dapet pembelajaran tentang cara menggunakan make-up dan sejenisnya. Gitu aja sih. Untuk hari lainnya itu, banyak dilakukan penilaian. Dari segi pengetahuan umum, pengetahuan agama, budaya, pariwisata, Bahasa Inggris juga kepribadian. Aku sama pasangan aku, dikasih kesempatan untuk memperkenalkan wisata di Lhokseumawe. Aku bercerita sedikit tentang Pantai Ujung Blang juga waduk. Selebihnya, aku menampilkan tarian kreasi daerah kita. Dan Alhamdulillah disambut dengan baik.

 

 

Apa nih keuntungan menjadi Duta Pariwisata?

Kalo menurut aku, yang penting itu bukan memang atau kalah. Tapi pengalaman kita itu pasti bakalan banyak. Jejarang sama koneksi kita juga akan bertambah banyak. Aku juga mengatakan hal yang sama kepada juri. Bahwa disini, aku ingin belajar dan menambah pengalaman. Dengan aku mengikuti ajang ini, aku jadi banyak belajar tentang budaya Aceh dalam ruang lingkup yang lebih besar.

 

 

Hmm, bicara soal tugas, apa nih tugas kamu sebagai Duta Pariwisata Aceh?

Sebenarnya program kerja kami itu belum keluar. Aku juga harus membuat program kerja sendiri. Nah, ini yang agak sulit. Aku di Lhokseumawe, pusatnya itu di Banda Aceh, sedangkan pasangan aku di Aceh tengah. Jadi, sulit sekali untuk saling berkomunikasi. Bahkan, untuk persiapan ke tingkat Nasional aja juga sulit. Untuk pembuatan program kerja, kami cuma mempersiapkan Visit Aceh 2013 nanti.

 

 

Apa aja nih, yang udah kamu siapkan untuk ke Palu nanti?

Baju ... Haha ... Masih belajar sih dari buku-buku tentang Aceh yang kemarin dibagikan. Terus juga, aku bakalan nanya-nanya sama Duta-Duta tahun lalu, biar nambah pengalaman aku, juga aku bisa menyesuaikan diri.

 

Gimana hidup kamu sekarang setelah menjadi Duta Pariwisata? Apa ada yang berubah?

Adalah, pastinya. Dulu tuh, aku jarang diperhatiin banyak orang nih. Sekarang, Alhamdulillah orang udah mulai memperhatikan aku dan lebih menghargai aku juga. Aku juga mungkin bakalan dapet pacar setelah ini... Haha....senanglah pasti :)

 

 

Gimana sih cara kamu ngebagi waktu kamu, antara sekolah dan tugas sebagai duta Pariwisata?

Dari pagi sampe sore itu, aku belajar di sekolah. Malamnya, kalo aku ngga sedang sibuk mikirin sekolah, aku mulai belajar tentang budaya. Sekarang-sekarang ini belum banyak tuh tugas sebagai Duta Pariwisata.

 

 

 

Apa nih prestasi lain yang pernah kamu raih?

Juara I Duta Aceh Damai, juara II Duta HIV/AIDS, juara III Putri Bunga, juara II Putri Citra, juara II pidato Bahasa Inggris, juara III Agam-inong Nanggroe, dll.

 

 

Apa nih keinginan kamu ke depannya?

Aku pengen ikut ajang Pemilihan Putri Indonesia. Aku juga pengen lebih mendalami Bahasa Inggris juga.

 

 

Pertanyaan terakhir nih, apa pesan kamu buat teman-teman?

Jangan sia-siakan kesempatan, kalau kesempatan itu ada di hadapan kita. Manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dan juga, terus kembangin bakat yang ada pada diri kita. Insya Allah ini baik J

 

Begitulah Shella. Dengan jawabannya itu, ia memang pantas menjadi Duta Pariwisata Aceh. Ia telah memiliki sifat seorang juara. Iapun telah mengharumkan nama Sukma Bangsa Lhokseumawe di tingkat provinsi.

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works