Pendidikan Ramah Anak PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 

JANGAN memaksakan rambutan berbuah anggur. Namun, upayakan rambutan dan anggur sama-sama menghasilkan buah terbaik! Kalimat tersebut rasanya belum sepenuhnya mampu dimaknai pemikir hingga praktisi pendidikan di Indonesia.

Sistem pendidikan yang diterapkan masih jauh api dari panggang dari keberpihakan terhadap kebutuhan anak. Meski penerapan Sekolah Ramah Anak (SRA) telah dimaktubkan dalam Permen No 8 Tahun 2014, sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam menjunjung hak dan kesetaraan anak, implementasinya baru pada perlindungan terhadap kekerasan dan pemenuhan kenyamanan anak.

 

Dengan mengedepankan permasalahan kekerasan dan bully terhadap anak, Permen SRA bertujuan menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait dengan pemenuhan hak dan perlindungan anak di bidang pendidikan.

 

Bukannya tak bagus, melainkan pemaknaan tentang kesetaraan, diskriminasi, dan kekerasan yang belum seragam, menjadikan program SRA seolah pincang. Ditambah lagi sistem pendidikan kita, mulai konten, proses, hingga evaluasi, juga belum dibuat berdasarkan kebutuhan anak. Semua diatur, disera gamkan, dan diberi standar yang sama meski kebutuhan dan kemahiran setiap anak su dah pasti berbeda. Seperti diungkapkan Elin Driana pada MI edisi 9 Januari 2016, sistem pendidikan Indonesia bermuara pada high test atau standardisasi assessment (UN) yang menyebabkan penyimpangan di berbagai aspek pelaksanaan pendidikan di semua jenjang.

 

Penentuan mata pelajaran yang diujikan, nilai minimum, dan administrasi lainnya, yang hanya menguras kantong negara, tidak pernah merujuk pada kepentingan peserta didik.

 

Tekanan pada sekolah dan guru akibat penilaian dan perankingan berdasarkan nilai rerata UN siswa juga menimbulkan kerugian pada anak. Semua berlomba mencetak anak yang mampu menghafal rumus hingga isi buku, memaksa anak untuk mampu menguasai matematika, sains, dan bahasa, meski mereka tak berbakat pada bidang tersebut.

 

SRA yang ideal

Padahal, pendidikan dapat di katakan ramah anak, hanya jika memenuhi karakteristik inklusif, sehat, dan melindungi semua anak, sesuai dengan kebutuhan anak, dan melibatkan anak, orangtua, serta masyarakat (Shaeffer, 1999). Idealnya, sekolah dan pendidikan ramah anak mampu merangkul semua anak dengan kelebihan masing-masing. Memberikan kesempatan yang sama untuk setiap peserta didik menemukan kekuatan diri mereka untuk dikembangkan.

 

Guru semestinya berfokus pada inteligensi. Hal ini sangat jelas ditekankan Unicef (2009), bahwa sekolah ramah anak harus memenuhi kualitas pada 5 aspek, Pertama, kualitas pelajar; sehat, bergizi baik, siap untuk belajar, dan didukung keluarga dan komunitas mereka. Kedua, Kualitas konten; kurikulum dan bahan-bahan yang mendukung perkembangan literasi , berhitung, pengetahuan, sikap, dan life skill. Ketiga, kualitas proses belajar-mengajar; berpusat pada anak, berbasis keterampilan dan teknologi. Keempat, kualitas lingkungan belajar; kebijakan dan praktik di lingkungan sekolah, fasilitas (ruang kelas, air, sanitasi), dan pelayanan (keselamatan, kesehatan fisik dan psiko-sosial). Kelima, kualitas hasil; pengetahuan, sikap, dan keterampilan; penilaian yang sesuai pada tingkat kelas dan tingkat nasional.

 

Sekolah ramah anak hanya akan menjadi mimpi jika sistem pendidikan di Indonesia belum mau berpihak pada kebutuhan siswa. Harusnya, pembuatan kurikulum dilakukan dengan menganalisis kondisi di lapangan secara spesifik, atau tidak hanya sampling yang pada akhirnya dijadikan sebagai gambaran umum untuk semua kondisi sekolah. Padahal, jelas tak sama kualitas pendidikan di Jakarta dengan di Aceh, Kalimantan, dan Papua. Lebih lanjut, kultur, keyakinan, dan target untuk setiap daerah, bahkan setiap sekolah akan berbeda satu sama lain.

 

Pemerintah mencanangkan wajib belajar untuk meningkatkan kualitas SDM. Namun, sayangnya pendidikan kita masih hanya berfokus pada hasil, bukan proses. Sekolah bagaikan pabrik perakit manusia, dengan proses dan standar akhir yang sama.

 

Menata ulang perspektif SRA

Berbagai aplikasi program SRA di sekolah-sekolah masih terfokus pada penegakan disiplin atau aturan sekolah, meniadakan kekerasan dalam penegakan aturan dan selama poses belajar, dan melindungi anak dari kejahatan fisik dan seks yang selama ini semakin marak terjadi. SRA telah mampu mengurangi tingkat kekerasan dan bully pada anak.

 

Namun, sayangnya, diskriminasi dalam bidang akademik justru belum terjamah. Sekolah masih dengan bangga bermerek unggul, memiliki kelas inti, dan membedakan anak berdasarkan kemampuan akademik meski tak dapat dimungkiri bahwa pelajaran matematika, sains, dan bahasa merupakan modal kecakapan hidup bagi setiap anak, tak perlu hingga level yang sangat tinggi. Jelas setiap kita butuh matematika untuk memudahkan hidup karena ada bilangan angka dan operasinya di sekitar kita. Kita butuh sains untuk mampu menyikapi setiap peristiwa di sekitar kita dan kita butuh kecakapan berbahasa untuk mengomunikasikan diri dengan sekitar. Namun, tak perlu hingga tingkatan expert karena tak semua orang membutuhkannya.

 

Pintar ialah multi-perception karena ukurannya tidak akan sama pada setiap anak. Sementara itu, di negara ini, pintar hanya diteruntukkan kepada mereka yang nilai UN-nya ba gus. Tidak mengherankan jika pintar hanya disimbolkan bagi anak yang penguasaan matematikanya bagus. Namun, anak sekelas Joey Alexander, pia nis muda berbakat yang su dah membawa namanya ke jenjang internasional, tidak akan disebut pintar jika nilai ma tematikanya pas-pasan. Atau, Nadia Shafi ana Rahma yang telah menetaskan belasan buku pada usia remaja, ti dak akan tergolong hebat ka rena tak mampu meraih medali di Olimpiade sains.

 

Padahal, orang dewasa pun mencapai kesuksesan berdasarkan kelebihan yang dimiliki. B J Habibie menjadi perancang pesawat karena kelebihannya di bidang fisika, tapi seorang Pablo Picasso menjadi pelukis hebat karena kelebihannya di bidang seni.

 

Merenungkan kembali makna pendidikan ramah anak sudah sewajarnya kita lakukan. Seperti apakah kita guru memperlakukan peserta didik? Tak perlu lagi memberikan angkaangka pada pekerjaan dan pen capaian yang telah mereka usahakan, tapi berikan penghar gaan atas kerja keras mereka. Jangan lagi membatasi cara berpikir mereka dengan menemukan jawaban tunggal atas pertanyaan yang kita ajukan, tapi biarkan mereka berpikir kritis yang nantinya akan menjadi benteng diri mereka saat berinteraksi di dunia nyata. Mari sama-sama kita laksanakan pendidikan ramah anak dengan benar-benar mengedepankan kebutuhan anak bukan berdasarkan kebutuhan kita atau kelompok tertentu. Menciptakan generasi yang mampu mengukir namanya di peradaban manusia ialah makna dari mendidik.

 

Muazzah Muhammad, Guru Sekolah Sukma Bangsa, Pidie, Aceh, MI | 10 Juli 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works