Yayasan Sukma Luncurkan Jurnal Pendidikan PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

 

SAAT ini belum begitu banyak sekolah ataupun universitas di Tanah AIr yang membuat jurnal pendidikan. Padahal, minimnya kehadiran li­teratur pendidikan akan berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan, juga pelestarian tradisi menulis dan tradisi belajar.

 

 

“Lewat dunia buku, kita bisa re­kreasi ke masa lalu dan belajar. Lewat literatur pendidikan pula, ide-ide kita hari ini bisa menjumpai generasi mendatang. Kalau tidak ada tradisi tulis-menulis, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang,” ungkap Ketua Majelis Yayasan Sukma, Prof Komaruddin Hidayat, dalam peluncuran dan bedah Jurnal Pendidikan Sukma di Studio Grand Metro TV, Jakarta, kemarin.

 

Jurnal yang berisi teori dan praktik di dunia pendidikan tersebut tidak hanya ditulis guru-guru dari Sekolah Sukma Bangsa, tapi juga dosen ataupun praktisi internasional, antara lain dari University of Tampere dan University of Finland, Finlandia.

 

Komaruddin menambahkan, pihaknya ingin mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ia mengaku banyak belajar dari Finlandia karena di negara itu terjalin kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan sehingga menghasilkan riset membanggakan.

 

“Ini yang perlu ditingkatkan di Indonesia sehingga yang dibutuhkan di level pengambilan kebijakan pemerintahan dan apa yang dibutuhkan masyarakat bisa tercapai. Ini ajakan bersama dari Yayasan Sukma Bangsa untuk meningkatkan langit pendidikan di Indonesia,” tukasnya.

 

Sementara itu, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi, menyebut pihaknya juga ingin menunjukkan tradisi menulis dan tradisi belajar yang dilakukan para guru hingga kelak dicontoh para murid Sekolah Sukma Bangsa. Dikatakannya, sudah ada delapan buku yang dihasilkan guru-guru Sekolah Sukma Bangsa.

 

“Ini bentuk keprihatinan yayasan. Biasanya yang menerbitkan jurnal ialah perguruan tinggi. Nah, ini kok yayasan? Tentu saja ini tantangan. Ini merupakan akumulasi dari 10 tahun pekerjaan kita. Ini juga salah satu yang ingin kita tunjukkan antara tradisi menulis dan tradisi belajar. Kita ingin memberikan contoh kepada sekolah lain, kalau membaca, ya harus menulis. Jurnal ini juga menjadi kontribusi kita untuk menumbuhkan nalar kritis,” ujarnya.

 

Baedowi mengaku tidak hanya terpaku pada prestasi akademik, pihaknya justru berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang positif di Sekolah Sukma Bangsa lewat pendidikan karakter.

 

Sekolah Sukma Bangsa telah menorehkan prestasi karena tiga siswa sekolah itu menjadi bagian dari enam orang yang mengikuti pertukaran pelajar Aceh setiap tahun ke Amerika Serikat

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works