Bijeh Mata PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

JUDUL di atas merupakan analogi betapa pentingnya seorang anak bagi orang tua; yang berarti penawar hati di kala sedih, penghibur di kala duka, dan penyemangat ketika di titik rendah.

Seperti halnya bibit tanaman yang hendak dipanen dengan hasil berlimpah, harus dirawat hingga tenggat waktu untuk memetik hasil. Begitu pula halnya dengan bijéh mata ini yang merupakan titipan Allah, yang sepatutnya setelah kita semai, harus kita rawat, hingga mereka mampu bediri di atas kaki sendiri.

 

Pemenuhan kebutuhan anak ini bukan hanya dari segi material saja, kasih sayang dan perhatian juga merupakan hal vital yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Bermula dari dalam kandungan, asupan gizi dari seorang ibu, diiringi dengan pemenuhan kebutuhan spiritual dengan tetap diiringi doa dari ayah-ibu sehingga anak ini tumbuh sehat dan saleh/salehah.

 

Secara kasat mata dengan bukti terkemuka, bahwa anak ini penting dalam sebuah mahligai rumah tangga. Harapan-harapan yang sebelumnya kita sebagai orang tua belum mampu kita capai, itulah yang nantinya menjadi ekspektasi yang akan diemban oleh si anak nantinya. Kesusahan dan pengalaman pahit yang pernah kita lalui di masa lampau, harapannya tidak sampai dirasakan kembali oleh buah hati kita.

 

Pemenuhan kebutuhan

Benar adanya, bukan hanya anak-anak yang punya kewajiban terhadap orang tua. Mereka patut juga menerima hak dari orang tua. Seringnya orang tua terlupa untuk menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan anak-anak ini dengan pemenuhan kebutuhan pribadi orang tua itu sendiri. Dalam pendidikan misalnya, orang tua sering terlupa memerhatikan kebutuhan anak-anaknya. Perhatian orang tua semakin berkurang jika anak-anak sudah beranjak ke kelas 4, 5, 6, jika dibandingkan dengan si anak ini di kelas 1, 2, 3 sekolah dasar. Ini merupakan realita yang kadang terlupa bagi kita sebagai orang tua.

 

Ironisnya lagi, ketika kesadaran orang tua untuk terlibat langsung dalam pendidikan anaknya, di mana pola pikir orang tua yang masih menganggap gurulah “pemain tunggal” di sekolah. Padahal, untuk mencapai keberhasilan pada siswa dibutuhkan orang tua, sekolah, dan siswa itu sendiri. Pendidikan merupakan tonggak yang nantinya akan menjadi bekal bagi anak untuk menghadapi tantangan di depan.

 

Dalam mendidik dibutuhkan komitmen dari semua pihak untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang kondusif, di mana hal ini akan membantu anak membangun kesadaran untuk belajar yang dimulai dari diri mereka sendiri (self awareness). Jadi, bukan hanya guru yang menjadi mood booster anak-anak untuk belajar, orang tua juga harus mulai menanamkan dalam diri anak betapa pentingnya motivasi dalam diri anak ini sendiri.

 

Senada dengan orang tua, guru pun harus senantiasa membangun komunikasi dengan orang tua. Bukan hanya perihal keganjilan-keganjilan sikap anak di sekolah, prestasi mereka pun wajib mendapatkan porsi yang sama. Karena, pada hakikatnya menjadi seorang guru bukan hanya datang tepat waktu dan mengajar dengan one way communication technique (teknik komunikasi satu arah), di mana proses belajar-mengajar yang hanya berpusat pada guru. Mulai dari sekarang gerakan perubahan itu perlu digalakkan. Guru hanya sebagai scaffolding (perancah); potensi siswa digali. Sebaliknya kelemahannya diatasi dengan membimbing mereka, sehingga mereka mampu belajar secara mandiri.

 

Penerapan belajar dengan menggunakan metode kooperatif harus dikedepankan, kompetisi antarsiswa harus mulai diminimalisir sedikit demi sedikit. Penggantian peran dari teacher centered (berpusat pada guru) menuju learner centered (berpusat pada siswa) akan mewujudkan kelas yang aktif. Performa siswa akan meningkat drastis jika guru bisa menciptakan kelas yang aktif. Sebaliknya ketika siswa pasif, otak mereka tidak bekerja secara efektif atau menyimpan informasi secara tepat guna (Hartley, 2005).

 

Memang orang tua tidak salah, ketika usahanya sudah maksimal untuk bijéh mata-nya mengharapkan hasil yang berlimpah untuk dituai. Berat memang tanggungan bijéh mata ini di masa depan. Beban yang sudah mulai digantung oleh orang tua sejak mereka masih dalam kandungan. Harapan yang sudah dielu-elukan oleh sanak saudara sejak masih dalam gendongan.

 

Mengandung harapan

Melalui budaya peujéb ie sira; ketika masih bayi dan pertama kali berkunjung ke rumah kerabat dekatnya. Tuan rumah yang menyambut, menyuap beberapa sendok teh air yang sudah diberi gula sebelumnya dan sejumput beras yang diletakkan di ubun-ubun si bayi. Ini bukan sekadar minum air biasa, namun mengandung tafaul (hal optimis) dari ritual tersebut. Air gula mengandung harapan jika nanti anak dewasa nanti akan menjadi anak yang bertutur kata dengan lembut dan santun berbicara. Sejumput beras pun mengandung harapan agar di masa depan yang penuh tantangan nanti, si penawar hati ini menuntut ilmu sebagai modal hidup dan bekal di masa hadapan.

 

Cita-cita orang tua dan kerabat kepada generasi yang akan menyambungkan garis keturunannya merupakan suatu kewajaran. Dalam hal ini, bukan kepentingan orang tua yang menjadi prioritas. Orientasi keuntungannya semata-mata untuk anak ini sendiri. Orang tua hanya mengecap hasil perjuangan didikan dan lantunan doanya, jika mereka dianugerahi umur panjang.

 

Namun, apa yang paling diharapkan orang tua jika bukan harta anak nantinya, hanya birrul walidain; berbuat baik kepada keduanya. Menyisihkan sedikit waktu di sela-sela kesibukan untuk sekurang-kurangnya menanyakan kabarnya. Menyisipkan sebait doa, Allaahummaghfirlii dzunuubii wa liwaalidayya war hamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa kepada keduanya di antara munajat kepada sang Maha Rahman dan Rahim.

 

Siti Sarayulis, S.I.Kom., M.A., Guru SD Sukma Bangsa Lhokseumawe, Serambi Indonesia | Sabtu, 22 Juli 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works