Pengembangan Sekolah dan Manajemen Kelas PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

 

BERDASARKAN pengalaman, agak sulit mengetahui secara persis, mana yang lebih baik dilakukan terlebih dahulu, pengembangan program sekolah atau manajemen kelas yang efektif. Ada ribuan sekolah di RI kurang peduli de ngan aspek pengembangan sekolah berbasis manajemen yang terukur dan terbuka.

 

 

Akibatnya, ada banyak sekolah yang seolah berjalan di tem pat karena tidak memiliki rancangan program pengembangan sekolah. Kualitasnya tak berkembang dan cenderung statis. Ada ribuan ke pa la sekolah dan guru yang menganggap sekolah hanya soal bekerja, bukan problem kependidikan anak yang masa lah terus berkembang dari ta hun ke tahun.

 

Implikasi ketiadaan program pengembangan sekolah yang terukur berdampak langsung pada bagaimana cara guru me ngelola kelas. Kelas seolah hanya dibatasi empat sudut tembok dengan sekumpulan mu rid yang setiap hari selalu diberi label berdasarkan kecen derungannya, juga dilihat sebagai gelas kosong yang siap diisi dengan cara apa pun.

 

Imajinasi dan kreativitas guru amat memprihatinkan se hingga pengelolaan kelas dari waktu ke waktu juga ber jalan statis dan tanpa pengem bangan. Akibatnya, kelas hanya berfungsi sebagai tempat memberikan instruksi semacam PR, ujian materi yang menakutkan, serta indoktrinasi alias memarahi siswa karena gaduh dan tanpa kendali.

 

Kebangkrutan

Tanda-tanda kebangkrutan suatu negara sebenarnya dengan mudah dideteksi dari kon disi sistem pendidikan nasional yang dijalankannya. Banyak sekali hasil studi menyebutkan, jika kondisi ekonomi sebuah negara memburuk, itu pasti berkorelasi positif terhadap kondisi sekolah.

 

Sebaliknya, jika stabilitas ekonomi mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat, dapat dipas - tikan sistem pendidikan nega - ra itu berfungsi dengan baik. Dengan demikian, kualitas sekolah memiliki pengaruh jelas terhadap kemampuan daya beli masyarakat, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

 

Para ahli ekonomi telah mem berikan perhatian sangat se rius kepada efek human capital terhadap berbagai hasil ekonomi. Investasi di bidang ke terampilan yang diselenggarakan melalui pendidikan akan selalu relevan dengan pa sar tenaga kerja jika sistem pendidikan suatu negara memiliki ketersambungan dengan pasar dan dunia industri. Artinya, investasi SDM melalui pendidikan merupakan tolok ukur sederhana untuk melihat sejauh mana relevansi sekolah dan dunia usaha bersinergi. Sekaligus mengukur sebuah sekolah itu memiliki ciri dan kriteria berkualitas.

 

Kondisi pendidikan atau si tuasi persekolahan saat ini mengalami banyak sekali tekanan dari berbagai pihak, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, se kolah belum memiliki kemam puan mengidentifikasi aspek-aspek yang menjadi ke lemahan mendasar seperti efektivitas manajemen dan relasi sekolah-masyarakat.

 

Sementara itu, secara eksternal, meskipun telah memiliki UU tentang sistem pendidikan nasional No20/2003, dalam praktiknya masih terdapat kesalahan mendasar dalam menafsir masalah otonomi pendidikan, sistem pengujian hingga kebijakan pengembangan kurikulum yang selalu membuat pelaksana pendidikan ber tambah bingung. Padahal menurut penelitian Elmore dan Fuhrman (2001), sebuah proses pendidikan akan baik dan berkualitas jika masalah yang berkaitan dengan tanggung jawab internal sekolah mendapatkan prioritas untuk diselesaikan.

 

Terkait dengan sekolah ber - kualitas, Peter Senge dalam bukunya The School That’s Learn (2003) menawarkan lima prinsip pendidikan yang menekankan pentingnya melihat sekolah dan atau proses pembelajaran sebagai suatu institusi pendidikan semacam perusahaan yang memerlukan kerja kelompok dan menuntut keahlian tertentu.

 

Secara ringkas kelima disiplin kolektif itu terdiri atas, pertama, penguasaan diri, merupakan praktik mengartikulasikan gambaran koheren dari pan dangan para pribadi yang terlibat dalam setiap sekolah- -hasil yang paling ingin kita dapatkan dalam hidup--di samping pengamatan nyata dari kehidupan sehari-hari. Kedua, keberanian setiap pengelola sekolah berbagi pandangan, sebuah disiplin kolektif yang menekankan perhatian pada tujuan bersama.

 

Ketiga, pembentukan mental, sebuah disiplin yang i ngin menekankan sikap pengem - bangan kepekaan dan persepsi—baik dalam diri sendiri atau orang sekitarnya. Keem pat, bentuklah kelompok belajar, sebuah disiplin dalam interaksi kelompok. Mela - lui teknik-teknik seperti dialog dan skillful discussion, se kelompok kecil orang dapat mentransformasikan pikiran kolektif mereka, belajar memobilisasi energi dan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama dan mengembangkan ke pandaian dan kemampuan mereka lebih besar jika dibanding dengan bila bakat anggota kelompok digabungkan. Kelompok belajar dapat dikembangkan dalam kelas, antara guru dan orangtua murid, an tara anggota komunitas, dan dalam kelompok utama yang mengejar perubahan sukses dalam sekolah.

 

Sementara itu, yang terakhir ialah disiplin kolektif tentang sistem berpikir, yaitu dalam di siplin ini kita belajar memahami ketergantungan dan perubahan. Dengan demikian, kita dapat menghadapi dengan lebih aktif tekanan yang membentuk konsekuensi dari sebuah tindakan. Peralatan dan teknik yang digunakan da lam melatih sistem berpikir ini seperti diagram stock and flow dan berbagai simulasi yang membantu siswa untuk memahami lebih dalam dari apa yang dipelajari.

 

Siklus kelas efektif

Selain program pengembangan sekolah, para guru harus di ingatkan soal pentingnya manajemen pengelolaan kelas yang efektif. Untuk menciptakan mood kelas yang baik, guru perlu memiliki strategi efektif mengajar.Salah satunya dengan pembuatan lesson plan yang menarik.

 

Pada tahap ini guru akan di ajak membuat lesson plan melalui tahapan proses belajar mengajar dengan menggunakan beragam model seperti: (1) Enroll, sebagai usaha menumbuhkan minat belajar dan menangkap perhatian sis wa untuk mengetahui apa man faat yang ia pelajari bagi kehidupan. Di awal kelas, guru dapat bertanya hal-hal yang menimbulkan penasaran dan menegaskan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, (2), experience, proses belajar ha rus menciptakan dan menda tangkan pengalaman yang da pat dialami langsung siswa. Setelah itu, (3) guru bisa mem be rikan label learning terhadap setiap materi, setelah para siswa diajak untuk mengetahui dan mengalami langsung pembelajaran dan menemukan hal-hal yang sifatnya faktual/nyata.

 

Dalam label learning, sebaik - nya perhatikan empat aspek, seperti fact, feeling (perasaan yang dirasakan saat melakukan sesuatu), fi nding (temukan hikmah yang bisa dipelajari), dan future (bisa diterapkan pa da kehidupan yang akan da tang).

 

Aspek nomor (4) demonstra - te, yaitu menyediakan kesempatan kepada siswa menunjuk - kan mereka tahu (siswa mempraktikkan teori yang sudah di - berikan), sambil memberikan beragam pandangan (5) review terhadap mata pelajaran atau materi yang mereka pelajari.

 

Siklus terakhir (6) ialah celeb ration, yaitu setiap proses belajar harus dirayakan dengan cara memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah dipelajari. Pengakuan ter hadap sebuah penyelesaian, partisipasi, perolehan keterampilan, dan ilmu pengetahuan la yak dirayakan setiap hari. Sik lus manajemen kelas yang efektif akan memengaruhi program pengembangan sekolah yang baik, juga berlaku sebaliknya.

 

Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta, MEdia Indonesia | Senin, 24 Juli 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works