Statuta dan Nilai Dasar Sekolah Sukma PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

KATA Sekolah Sukma, sebelum akhirnya berubah menjadi Sekolah Sukma Bangsa, sebenarnya dimaksudkan oleh Bapak Surya Paloh sebagai Sekolah Unggulan Kemanusiaan. Karena kesadaran bahwa sebagai sekolah baru tak mungkin memiliki keunggulan yang bisa diakui oleh masyarakat, kata Sukma disepakati untuk dikembalikan pada arti awalnya, yaitu semangat, spirit, roh atau jiwa bagi sekolah yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Sukma Bangsa (SSB).

Dari segi penamaan, terlihat niat awal penggagas, bahwa selain kata keunggulan, juga ada kata kemanusiaan. Dari dua kata dasar inilah, Sukma dan Kemanusiaan, yang kemudian dijadikan pintu masuk untuk meletakkan nilai-nilai dasar SSB sebagai penanda yang membedakannya dari sekolah-sekolah lainnya, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di Indonesia.

 

Nilai-nilai dasar Sukma Bangsa yang dijadikan pedoman pengelolaan SSB bertumpu pada keyakinan bahwa kapasitas guru ialah yang utama (teacher supremacy) dan pertama harus dipikirkan, direncanakan, dikembangkan dan dilaksanakan. Kedua ialah nilai dasar tentang kesetaraan kondisi bagi seluruh siswa. Prinsip ini penting agar sekolah menjadi ajang peletakan nilai-nilai toleransi dan demokrasitasi paling awal sebelum mereka kembali ke masyarakat. Nilai dasar ketiga bertumpu pada upaya membangun partisipasi masyarakat dalam rangka menumbuhkan kesadaran pentingnya investasi dan pembiayaan pendidikan anak-anak dipikirkan secara bersama. Terakhir ialah praktik menerapkan rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) secara transparan dan terbuka yang melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan.

 

Katalisator

Selain keempat nilai dasar yang menjadi sandaran operasional SSB dalam 11 tahun terakhir, SSB juga diuntungkan karena memiliki dokumen tertulis yang menjadi rujukan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dalam mengelola sekolah, yaitu cetak biru (blueprint) dan statuta sekolah. Kedua dokumen ini secara sengaja dibuat dan dirumuskan dalam rangka meletakkan dasar pengelolaan sekolah sepanjang masa. Di Yayasan Sukma kami selalu berpikir bahwa pengurus saat ini bisa datang dan pergi, tetapi nilai dasar SSB harus tetap ada dan akan selalu jadi rujukan dan pedoman pengelolaan sekolah. Standar pengelolaan sekolah harus bertumpu pada keyakinan yang disepakati para pemangku kepentingan dalam blueprint dan statuta sekolah sehingga siapa pun orang yang diberikan kepercayaan untuk mengelolanya akan tetap menjalankan sekolah sebagaimana tertulis dan diatur dalam statuta sekolah.

 

SSB di Aceh didedikasikan bagi pengembangan masyarakat Aceh dan Indonesia umumnya. Atas dasar itu, di samping mencapai standar kualifikasi pendidikan sebagai sekolah berkualitas, proses pembelajaran SSB juga diarahkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai keacehan, keislaman, kemanusiaan, dan ke-indonesiaan. Kesemuanya itu menjadi landasan orientasi dan arah pengembangan proses pembelajaran di sekolah. Mengingat besarnya tantangan Indonesia di masa mendatang, pengembangan mutu pendidikan menjadi salah satu keharusan bagi Sekolah Sukma Bangsa. Usaha pengembangan mutu pendidikan mensyaratkan adanya satu pedoman yang mengatur proses perencanaan, penyelengaraan, dan pengembangan kegiatan institusional dan operasional menuju tujuan yang dicita-citakan sekolah. Dalam kerangka itulah, Statuta Sekolah Sukma Bangsa merupakan dokumen tertulis yang sangat penting sebagai panduan pengelolaan sekolah.

 

Tak banyak sekolah di Indonesia yang memiliki statuta sekolah untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali. Bahkan untuk seluruh sekolah negeri mulai sekolah dasar hingga menengah atas, statuta sekolah tak dimiliki. Padahal, statuta sekolah merupakan dreinase atau aliran emosi dan aturan yang seharusnya dimiliki setiap sekolah karena mampu menjadi katalisator seluruh gerak emosi dan fi sik sekolah ke arah yang lebih baik. Banyak kasus di Indonesia karena ketiadaan dokumen tertulis yang disepakati seluruh pemangku kepentingan di tingkat sekolah, setiap kali terjadi pergantian kepala sekolah, kebijakan dan pengelolaan sekolah juga ikut berubah. Benar bahwa setiap sekolah selalu merujuk kepada peraturan yang dibuat dan ditetapkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan, tetapi pada faktanya hampir semua peraturan yang dibuat dan ditetapkan hanya berjalan ditempat karena pendekatannya yang top-down.

 

Belajar dari SSB, statuta dibuat dan mengacu kepada kebutuhan struktur sekolah yang memang unik. Setiap sekolah saya rasa memiliki struktur yang berbeda karena masalah dan kebutuhan yang dihadapi berbeda satu sama lain. Karena itu dengan mengaturnya ke dalam statuta, setiap kepala sekolah, guru, siswa, pengawas dan orangtua akan sadar hak dan tanggung jawabnya masingmasing, serta memberi respons dan pembelajaran yang baik karena setiap posisi dihargai dan diberikan kepercayaan untuk mengelola setiap urusan yang menyangkut pengelolaan sekolah dan kelas. Mekanisme statuta sekolah juga sangat memungkinkan dijadikan rujukan bagi pengelolaan emosi warga sekolah melalui manajemen konfl ik berbasis sekolah (MKBS).

 

Memercayai guru

Salah satu kreativitas yang tumbuh dengan adanya statuta ialah keyakinan bahwa setiap sekolah harus memiliki guru yang benar dan terlatih dengan baik. Salah satu kekuatan SSB, menurut saya, ada pada model pengembangan kapasitas guru yang konsisten dan mengikuti alur visi dan misi sekolah yang jelas dan terukur sebagaimana tertulis di dalam statuta sekolah. Saya dan kawan-kawan selalu memiliki ide dan kreativitas yang berbeda dengan sekolah kebanyakan, terutama dengan mengombinasi pendekatan gaya dayah (pesantren) dengan pendidikan modern. Dengan inspirasi dan proses belajar secara natural dari buku Peter Senge A Schools That Learn (2004), SSB bertumbuh dan berkembang di luar dugaan siapa pun karena di dalamnya telah terbangun secara solid komunitas belajar (learning communities) yang sadar akan pentingnya masa depan anak-anak.

 

SSB seakan tak pernah lelah untuk terus berinovasi dalam menjaga keseimbangan antara ide-ide kontemporer di bidang pendidikan dan regulasi yang telah dibakukan ke dalam blueprint dan statuta sekolah. Sepengetahuan saya tak banyak sekolah di Indonesia yang memiliki blueprint yang memuat prinsip-prinsip belajar secara holistik serta statuta sekolah yang mampu mengatur ritme dan irama dari aliran emosional komunitas sekolah secara beradab dan manusiawi. Bukan hanya itu, selain dokomen tertulis, SSB juga secara kreatif mampu mengembangkan teknologi dan informasi ke dalam struktur belajar-mengajar secara efi sien.

 

Dari keyakinan terhadap pentingnya memercayai guru sebagai nilai dasar pertama ini, hasilnya dapat dilihat dari perkembangan SSB ialah meningkatkan kemampuan intelektual teman-teman yang terlibat di dalamnya. Tak terbayangkan oleh saya sebelumnya, setelah 10 tahun mengelola sekolah, saya dan teman-teman lainnya mampu menuliskan pengalaman kami secara apa adanya berdasarkan pengalaman mereka masing-masing ke dalam 5 buku. Tak banyak kesempatan seperti ini dimiliki oleh siapa pun yang teribat dalam proses pendidikan. Kalaupun ada, biasanya itu merupakan inisiatif pribadi dan bersifat individual. Namun, di SSB saya melihat ada kebersamaan luar biasa ketika mereka menulis, dan hasilnya, menurut saya, patut diapresiasi oleh siapa pun yang peduli dengan peningkatan kualitas pendidikan di Tanah Air.

 

Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta | Media Indonesia, 7 Agustus 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works