Membangun Budaya Belajar PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

SEBUAH hadis yang berbunyi Utlubul Ilmu Minal Mahdi ilal Lahdi yang artinya carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat menunjukkan proses belajar manusia tidak terbatas, dilakukan sepanjang hayat sampai dengan wafat. Belajar berlaku bagi siapa saja, tidak peduli masih muda atau sudah tua.

 

Seseorang yang terus belajar akan bertambah pengetahuannya, tidak ketinggalan zaman, dan up-to-date karena mendapatkan informasi-informasi baru sehingga dapat memperbaiki kualitas diri dan kehidupan di sekelilingnya. Gage (1984) menyatakan belajar ialah suatu proses ketika perilaku individu berubah sebagai akibat dari pengalaman. Ketika seseorang belajar secara terus-menerus, akan terjadi perubahan kemampuan pada dirinya.

 

Tugas seorang guru ialah sebagai pengajar. Namun, guru juga wajib terus belajar, tidak hanya mengajar dengan memberikan ilmu kepada murid-muridnya. Guru yang berkualitas ialah guru yang mau mengembangkan kemampuannya dengan cara belajar. Belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas, melanjutkan kuliah atau mengikuti berbagai pelatihan atau seminar. Belajar bisa dimulai dengan diri sendiri dan orang di sekitar. Selain kesadaran yang bersifat personal, keinginan untuk belajar bisa tumbuh karena ada rangsangan dari lingkungan sekolah. Ini artinya ada keinginan dari sebuah sekolah untuk mengembangkan kapasitas guru-guru mereka melalui sebuah perencanaan professional development program yang terukur dan bertanggung jawab.

 

Membentuk forum belajar

Untuk mengembangkan kualitas diri dan membuka pola pikir guru akan pentingnya belajar, sekolah hendaknya memfasilitasi dan membuka ruang seluas-luasnya kepada guru untuk belajar. Jika semua guru sadar dan mau belajar, akan tercipta komunitas pembelajar yang memperkuat budaya belajar di sekolah. Bashori (2015) berpendapat belajar hendaknya menjadi gaya hidup guru. Jika guru tidak punya kemauan untuk belajar, dipastikan guru itu miskin inspirasi dan tentunya tidak menginspirasi siswa siswinya.

 

Pengalaman Sekolah Sukma Bangsa dalam membangun budaya belajar ialah membentuk forum-forum belajar dan memberikan ruang seluasluasnya kepada guru memanfaatkan forum itu. Setiap pekan ada beberapa forum yang memfasilitasi guru untuk mengembangkan kualitas diri, seperti English for Teacher (EFT), Guru Pembelajar Sukma (GPS), dan Forum Guru Belajar Bersama (FGBB).

 

Kegiatan itu dilakukan rutin setiap pekan setelah guru menyelesaikan tugas mengajar di kelas. EFT ialah wadah guru dapat mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Dalam forum ini guru yang sudah memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik secara bergantian memfasilitasi teman-teman guru yang lain untuk mengimprovisasi kemampuan berbahasa Inggris.

 

Sementara itu, GPS adalah program yang diinisiasi manajemen sekolah untuk meningkatkan minat membaca dan menulis guru. Dalam kegiatan GPS ini guru terbagi tiga kelompok. Kelompok pertama, kelompok guru senior yang sudah lebih dari 5 tahun mengajar. Kelompok kedua, kelompok guru yang memiliki pengalaman mengajar hampir dari 5 tahun, dan kelompok 3 guru yang mengajar kurang dari 2 tahun. Setiap kelompok didampingi satu guru yang sudah memiliki pengalaman dalam bidang tulis menulis.

 

Dalam FGBB, guru yang telah mengikuti program pelatihan, diklat, seminar, workshop, atau menyelesaikan studi lanjutan, bertanggung jawab berbagi ilmu kepada guru lainnya. Dalam forum ini, guru saling bertukar informasi, berdiskusi, ataupun curhat yang berkaitan dengan pembelajaran.

 

Saat beberapa guru Sekolah Sukma Bangsa menyelesaikan S-2 di Universitas Tampere Finlandia, setelah kembali ke sekolah, mereka membagikan ilmu yang berkaitan dengan metode dan strategi mengajar. Walaupun tidak semua guru berkesempatan melanjutkan sekolah ke Finlandia, ilmu yang didapat tersampaikan kepada puluhan guru lainnya.

 

Berbagi kepemimpinan

Guru harus belajar dan mengembangkan kualitas diri agar mempunyai kemampuan memimpin karena pada dasarnya teacher is leader. Selain pemimpin di ruang kelas, guru sering kali diminta untuk menjadi pemimpin di sebuah kepanitiaan sekolah dan pemimpin di dalam kelompok-kelompok belajar.

 

Tidak hanya belajar menjadi pemimpin, guru harus bisa berbagi kepemimpinan (distributed leadership). Spillane (2001) menyatakan bahwa distributed leadership ialah kepemimpinan yang terbentuk dengan menggabungkan aktivitas banyak individu di sekolah secara kolektif, yang bekerja menggerakkan dan membimbing guru lain dalam proses perubahan.

 

Melalui forum belajar guru, secara tidak langsung dapat menggerakkan individu yang berada di dalamnya untuk terlibat merencanakan, membangun, dan mengembangkan kemajuan sekolah. Peter Senge (2003) menyatakan sebuah organisasi bisa terus berkembang dan bertahan jika selalu belajar memperbaiki dan memperbarui diri. Orang-orang yang terlibat di dalamnya diberi ruang dan dikondisikan untuk dapat belajar dan bersama-sama belajar sehingga berkembang dan mengaktualisasikan diri.

 

Di tengah-tengah masalah rendahnya kualitas guru dan upaya pemerintah dalam menanganinya, sebagai guru saya merasa bahwa Sekolah Sukma Bangsa hadir untuk menjadi bagian dari solusi. Dengan menerapkan konsep a school that learn, Sekolah Sukma Bangsa terus berbenah diri mencari solusi dari permasalahan yang terjadi. Belajar dari kesalahan dan menikmati setiap proses yang dilakukan agar lebih baik.

 

Saya bangga menjadi bagian dari Sekolah Sukma Bangsa karena tidak banyak sekolah yang menerapkan konsep ‘sekolah yang belajar’ dan memberikan ruang kepada guru untuk belajar bersama dan sama-sama belajar. Biasanya para guru hanya mengikuti pelatihan yang difasilitasi pemerintah pusat atau daerah tanpa ada forum sharing kepada guru lain. Lain halnya dengan Sekolah Sukma Bangsa, di sekolah ini kami berproses, memberikan dan memperoleh banyak hal. Tidak hanya pengetahuan, tapi cara berpikir dan bersikap terus berkembang.

 

Salah satu praktik kecil tentang berbagi kepemimpinan yang terjadi di Sekolah Sukma Bangsa ialah kesediaan untuk berbagi posisi Kepala Sekolah di antara para guru berdasarkan kemampuan dan pengalamannya.

 

Sebagai Kepala SMP Sukma Bangsa beberapa tahun, saya dan beberapa teman kepala sekolah lainnya yang beruntung memperoleh beasiswa S-2 ke Finlandia hingga saat ini tetap ikhlas dipimpin para kepala sekolah yang bahkan tidak menerima beasiswa.

 

Bagi kami, berbagi ialah prinsip belajar yang paling genuine yang sangat bisa diterapkan dalam praktik-praktik manajemen kependidikan. Salut buat Sekolah Sukma Bangsa. Semoga terus menghidupkan ‘sukma’ ke dalam jiwa anak bangsa, mendatangkan manfaat, dan memaknai kehidupan banyak orang.

 

Susan Sovia, Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Aceh | Media Indonesia, 14 Agustus 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works