Mencari Makna bukan Data PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

SORE itu Masjidil Haram sangat panas. Ratusan ribu orang dengan khusyuk melaksanakan umrah wajib: antara lain tawaf, yakni mengelilingi Kabah tujuh putaran, dan Sai, yakni berjalan dan berlari-lari kecil dari Bukit Safa-Marwa, juga tujuh kali. Dapat dibayangkan, penat dan haus merupakan perasaan para jemaah.

 

Tiba-tiba dalam kerumunan yang sangat padat dan panas itu hadir malaikat kecil di tepi lintasan menawarkan segelas air zam-zam. Dengan senyum polosnya anak kecil ini berkata, ”Zam-zam, halal, halal”, sembari menyodorkan zam-zam kepada setiap jemaah yang lewat. Ces, tenggorokan terasa dialiri air dingin, meminjam istilah Bung Karno, ‘kadyo siniram banyu wayu sewindu lawase’, laksana disiram air yang sudah dibiarkan dingin sewindu. Nikmat sekali. Alhamdulillah.

 

Itulah data, fakta yang diperoleh dari pengalaman di lapangan. Realitas objektif yang kasatmata. Anak usia SD mampu menunjukkan kesalehan sosial luar biasa. Dalam usia yang masih belia, malaikat kecil kita ini telah berhasil mengejawantahkan sikap spiritual nyata dalam dinamika kehidupan bersama. Dengan caranya sendiri, ia mengekspresikan perilaku prososial menolong mereka yang membutuhkan.

 

Akan tetapi, yang membuat air mata memeleh justru makna, hikmah di belakang setiap pengalaman objektif yang kita alami. Ketika menerima uluran zam-zam dari tangan mungil itu, pikiran melayang ke mana-mana. Anak siapa ini? Bagaimana kedua orangtua mendidiknya? Apakah anak ini lulusan madrasah diniyah, sekolah agama, atau alumni sekolah lima hari dengan program penguatan karakter?

 

Pembelajaran kritis-reflektif

Memang sudah banyak upaya yang dilakukan pemangku kepentingan pendidikan dalam memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini. Mulai perbaikan kurikukum, kesejahteraan guru, dsb, tetapi fakta di lapangan menunjukkan titik tekan pendidikan masih pada hasil angka-angka.

 

Malah di banyak daerah, demi mendongkrak perolehan angka, dilakukan berbagai upaya yang justru merupakan pengkhianatan terhadap fi losofi pendidikan. Proses belajar yang benar acap kali dikorbankan semata-mata demi mengejar nilai angka.

 

Celakanya, angka ini pula yang kemudian tidak jarang dijadikan patokan menentukan penerimaan di PT atau di dunia kerja. Mengorbankan proses demi hasil ‘palsu’ merupakan hal sangat tidak bijak dan harus segera diakhiri bila kita tidak ingin menggiring generasi bangsa ini ke tepi jurang keterpurakan yang lebih dalam.

 

Diperlukan tidak sekadar niat baik, tetapi juga kerja serius dari semua pemangku kepentingan pendidikan untuk kembali menaruh perhatian lebih besar pada proses pendidikan yang mencerahkan, bukan pada nilai akhir berupa angka-angka yang menyesatkan.

 

Ke depan proses pembelajaran yang mendalam perlu terus di dorong karena proses semacam inilah yang d a p at m e m b a nt u me ngembangkan kemampuan siswa dapat berpikir kritis-refl ektif secara mendalam. Pembelajaran permukaan (surface thinking) hanya melahirkan anak didik cenderung membebek dan tidak autentik. Memiliki hapalan yang banyak, menguasai bidang ilmu tentu yang ditekuni, tetapi terlepas dari konteks sosial kehidupannya. Untuk beberapa kasus bahkan tidak memiliki kepedulian terhadap permasalahan orang lain.

 

Berbeda dengan pembelajaran permukaan, yakni keterlibatan siswa dalam proses belajar hanya dimaksudkan mereproduksi informasi tanpa analisis yang lebih detail dan mendalam, pembelajaran kritis-refektif dimaksudkan menemukan makna baru yang lebih mendalam dan mengaitkannya dengan pengetahuan dan pengalaman belajar sebelumnya.

 

Deep learning dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Martin (2016) menyebut (1) focus on the core, (2) adopt critical thinking, (3) introduce more science, (4) practice team work, (5) learn to communicate, (6) extend the reach, (7) learn learning, (8) develop leadership skills, (9) use deep blended models, dan (10) convene and connect.

 

Berpikir mendalam

Dalam khazanah psikologi kognitif, sudah jamak dikenal pengembangan otak kiri dan otak kanan. Siswa perlu diberi kesempatan belajar menjadi cerdas sekaligus kreatif. Meski dalam kenyataan kedua kemampuan itu kurang dapat berkembang bersama secara simultan. Banyak penelitian menunjukkan tidak saja model pendidikan kita dikritik terlalu kognitif. Akan tetapi, juga berat sebelah: otak kiri. Yang menonjol kemudian berbagai kegiatan seperti cerdas-cermat, cepattepat yang sekarang menjelma menjadi berbagai olimpiade bidang ilmu. Intinya ialah penguatan kemampuan berpikir konvergen dan reproduktif.

 

Dalam model ini ketepatan hapalan dan kepiawaian menemukan satu jawaban yang benar menjadi prioritas. Itulah sebabnya mengapa ketika siswa diajak berpikir divergen dan produktif menjadi kesulitan. Ketiadaan pengalaman belajar yang cukup dalam mengembangkan otak kanan menyebabkan anak-anak negeri miskin imaginasi. Karya-karya inovatif-produktif masih jauh panggang dari api.

 

Sebenarnya terdapat kategori lain dalam menjelaskan kemampuan berpikir, yaitu surface thinking dan deep thinking. Terdapat perbedaan yang sangat nyata kedua kemampuan berpikir ini. Berpikir permukaan hanya mencari data, sementara berpikir mendalam berusaha menemukan makna. Dunia akademik tidak terasa tenggelam dalam logika berpikir permukaan karena dalam hampir setiap penelitian yang dicari hanya data. Manakala sudah menemukan data dan dianalisis secukupnya, peneliti merasa sampai pada kesimpulkan tertentu.

 

Pertanyaannya kemudian, adakah makna lebih dalam ditemukan pada petualangan akademik dimaksud. Rasanya tidak. Salah satu buktinya, betapa banyak orang yang pintar secara akademik, tetapi tidak arif secara spiritual. Berbagai ilmu pengetahuan yang dikuasainya tidak mampu mendorong pribadi bersangkutan mendapatkan transendensi diri, sebagai pangalaman puncak spiritual manusia.

 

Di layar kaca sering dipertontonkan aktor-aktor intelektual, politisi, dan tokoh-tokoh negeri yang masih saja mengedepankan ego personal dan primordial. Sungguh jauh pencapaian spiritualnya bila dibandingkan dengan malaikat kecil kita di lintasan tawaf tadi.

 

Berpikir mendalam ialah berpikir kritis-refl ektif untuk menemukan makna baru lebih mendalam dari setiap pengalaman kehidupan. Siswa perlu diberi pengalaman belajar lebih ‘mendalam’ dan kontekstual agar ilmu yang dipelajari tidak saja relevan menyelesaikan beragam persoalan nyata kehidupan, tetapi secara spiritual dapat meningkatkan kapasitas anak didik menggapai transendensi diri.

 

Perubahan cara berpikir ini penting dilakukan karena seperti kata Einstein, “The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking”. Oleh karena dunia kita sekarang ini ialah hasil suatu proses berpikir, tidak akan banyak berubah tanpa mengubah berpikir kita. Manakala pelaksanaan pendidikan masih saja berkutat di ranah surface thingking, dan belum beranjak memasuki cara lebih substantif dan mendalam, ke depan kita tidak dapat berharap banyak akan terjadi perbaikan mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik ini.

 

Khoiruddin BashoriPsikolog Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta | Media Indonesia, 28 Agustus 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works