Ketidakjujuran Akademik PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

KETIDAKJUJURAN akademik (academic dishonesty) merupakan bagian penting dari pendidikan. Namun, isu ini masih belum mendapatkan perhatian besar dari publik. Tulisan-tulisan dan riset khusus tentang ketidakjujuran akademik belum banyak dilakukan dan diekspos di media.

Mengapa isu ketidakjujuran akademik penting dipahami publik dan tidak hanya dunia akademik? Dalam skala yang sangat luas, ketidakjujuran dalam bidang pendidikan senyatanya akan mengganggu mentalitas sebuah bangsa. Melawan ketidakjujuran ialah tugas semua pendidik, termasuk orangtua dan masyarakat.

 

Delapan alasan

Whitley & Keith-Spiegel (2002: 4-6) mengemukakan setidaknya ada delapan alasan mengapa ketidakjujuran akademik sangat mengganggu struktur mental bangsa. Pertama, soal rasa keadilan, di dalam banyak kasus siswa yang melakukan ketidakjujuran akademik seperti menyontek dalam ujian sering kali mendapat nilai lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang belajar sungguh-sungguh dan tidak melakukan kecurangan.

 

Kedua, memengaruhi pengembangan karakter yang baik di kalangan peserta didik. Saat murid melihat rekannya melakukan kecurangan dan guru mereka membiarkan, sikap seperti ini telah menimbulkan pandangan di kalangan murid bahwa ketidakjujuran akademik sebuah kewajaran.

 

Ketiga, ketika guru membiarkan murid menyontek, sikap dan tindakan itu akan membuat murid yang jujur frustrasi dan menyebabkan motivasi belajar menurun. Kemudian muncullah akibat keempat, ketika siswa tidak dapat berkiprah dalam usaha yang sungguh-sungguh secara intelektual dan moral untuk membangun dirinya karena antara ilmu yang diperoleh dan ijazah yang diterima tidak sepadan.

 

Selain efek ke siswa, ketidakjujuran akademik secara mental mengganggu kinerja guru. Itulah yang melandasi alasan kelima, ketika tindak tidak jujur akademik yang dilakukan peserta didik membuat pengajar merasa hak dirinya dirusak. Hal itu dapat menimbulkan perasaan marah dan dendam, yang pada akhirnya membuat pengajar emoh mendukung gerakan pemberantasan tindakan ketidakjujuran akademik.

 

Keenam, perilaku peserta didik di masa mendatang biasanya mengulang kebiasaan buruk itu hingga PT dan ketika berkarier. Ketujuh, ketidakjujuran akademik merusak reputasi lembaga pendidikan.

 

Kedelapan, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan akan rontok lantaran ketidakjujuran akademik. Orang yang lulus atau berhasil mendapat gelar akademik secara tidak jujur akan menjadi pekerja yang tidak jujur dan tidak kompeten.

 

Tipologi ketidakjujuran akademik

Menurut Whitley dan Spiegel (2002) juga Davis et all, (2009) terdapat beberapa tipologi ketidakjujuran akademik. Pertama, menyontek diwujudkan dengan dua cara, yaitu cara konvensional, misalnya menulis sontekan di bagian tubuh seseorang atau barang yang dimiliki seperti jam tangan. Cara yang canggih ialah memanfaatkan teknologi mutakhir seperti penggunaan kalkulator terprogram dan pesan teks.

 

Kedua plagiarisme. Berasal dari bahasa Latin plagium yang secara harfiah berarti mencuri. Plagiarisme adalah mencuri pemikiran atau tulisan orang lain (Wendy: 2008). Plagiasi adalah mengambil kata atau ungkapan atau ide orang lain tanpa menyebutkan nama penulis. Menyuruh orang lain menulis paper atau skripsi, tesis, atau disertasi (ghost writing) atau menyelesaikan PR atau tes ialah bentuk plagiasi (Davis et all, 2009: 4; Whitley & Spigel, 2002:17).

 

Ketiga memfasilitasi seseorang melakukan ketidakjujuran akademik. Misalnya, seorang pengajar memberikan nilai lebih dari yang sebenarnya berhak didapatkan seorang murid.

 

Keempat memberikan informasi atau bahan yang tidak bersumber termasuk sumber rujukan. Kelima, mendompleng nama dalam kerja kelompok, yakni tidak memberi kontribusi apa-apa dalam kegiatan atau proyek kelas. Keenam, sabotase adalah melakukan usaha mencegah orang lain menyelesaikan tugas (akademik). Misalnya menyembunyikan buku atau alat tulis sehingga ia tidak dapat menyelesaikan tugasnya.

 

Faktor pendorong

Seseorang terlibat atau melakukan ketidakjujuran akademik karena dua faktor, internal dan eksternal. Faktor internal mencakup berbagai hal seperti keterbatasan seseorang seperti waktu dan sikap dan pandangan seseorang terhadap tindakan yang dilakukan.

 

Dengan alasan tidak cukup waktu, seseorang menyontek untuk menjawab soal ujian. Sementara itu, sikap pembenaran diri terhadap tindakan menyontek disebut neutralization. Seseorang menyontek dengan alasan tindakan itu dilakukan kebanyakan orang lain (Davis et all, 2009: 72). Acap kali muncul sikap dan pandangan dalam seseorang bahwa menyontek boleh dilakukan asalkan ‘tidak ketahuan’ guru atau pengawas.

 

Murid yang memiliki etos kerja dan moral rendah atau murid yang memiliki sikap ingin mendapatkan persetujuan orang lain, tidak memiliki sikap mandiri dalam membuat keputusan, cenderung melakukan ketidakjujuran akademik.

 

Begitu juga dengan anakanak yang memiliki tanggung jawab rendah dan suka menunda-nunda tugas. Murid yang suka menyelesaikan tugas di saat-saat akhir cenderung melakukan kecurangan jika dibandingkan dengan murid yang selalu berusaha menyelesaikan tugas tepat waktu (Davis et all, 2009:80). Hal lain ialah sikap victimless crime di kalangan murid atau masyarakat. Mereka memandang bahwa melakukan kecurangan lebih bermanfaat bagi mereka dan tidak memengaruhi atau menyakiti orang lain (Davis et all, 2009: 84,87).

 

Sementara itu, faktor eksternal meliputi sikap diri dan sikap yang dibentuk keadaan seperti lingkungan yang permisif terhadap praktik-praktik ketidakjujuran akademik. Saat ghost writing paper, menyontek dalam ujian, mengumbar nilai dan lainnya kadang dianggap wajar, bisa dikatakan, sistem yang berlaku sistem yang korup.

 

Dalam sistem ini, orangtua, guru dan pengelola sekolah tidak setuju dengan penerapan aturan atau tuntutan integritas akademik dalam situasi apa pun (Davis et all, 2009:61). Salah satu contohnya adalah anggapan bahwa membantu murid dengan memberikan sontekan dalam ujian disamakan dengan membantu orang yang mengalami kesulitan.

 

Dari uraian itu, ada dua poin yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius. Pertama, ketidakjujuran akademik akan merusak moralitas dan keilmuan yang semestinya menjadi bekal kehidupan bangsa ke depan. Membiarkan ketidakjujuran akademik sama dengan menyiapkan liang kubur untuk generasi mendatang.

 

Kedua, upaya-upaya untuk mencegah ketidakjujuran akademik harus dilakukan terus-menerus, misalnya dengan mengingatkan bahaya ketidakjujuran akademik terhadap generasi mendatang kepada masyarakat dengan pelbagai pendekatan dan media. Menetapkan kebijakan dan pelaksanaannya secara partisipatoris atau melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk mencegah dan memberantas ketidakjujuran akademik.

 

Fuad Fachruddin, Konsultan Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta | Media Indonesia, 28 AGustus 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works