Menyemai Spiritualitas Autentik PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

DALAM rombongan jemaah haji kami tahun ini, ada nenek sepuh yang mengalami gangguan kesehatan: cedera kepala, parkinson, dan kesulitan mengontrol buang air kecil dan besar. Meski telah menggunakan pampers, tidak jarang masih bocor.

Karena sudah sepuh, dengan pandangan mata terbatas, acap kali nenek gagal membuang ‘kotoran’ pada tempatnya. Masalah muncul sejak rombongan tiba di Madinah. Teman-teman sekamar merasa terganggu dengan bau menyengat. Hampir semua roommates tidak tahan dan meminta pindah.

 

Persoalan menjadi semakin rumit ketika di musim haji tidak tersedia pramurukti yang dapat menjaga secara khusus beliau. Jika ada tarifnya lumayan tinggi, dengan hitungan per jam. Belum lagi masalah birokrasi Arab yang kaku, tidak mudah memasukkan orang luar, yang bukan jemaah haji ke dalam hotel. Pilihan yang mungkin adalah mencari sesama jemaah yang bersedia tukar kamar. Mereka yang tidak tahan pindah dan digantikan jemaah lain yang bersedia mendampingi dan merawat nenek. Ternyata alternatif ini tidak mendapatkan respon sesuai harapan.

 

Di tengah kebuntuan, ada pernyataan menyejukkan dari seorang ibu yang sekamar, “Saya akan merawat nenek, tidak hanya selama di Madinah, Insya Allah juga di Mekah, sampai haji selesai. Mudahmudahan ini menjadi jalan saya menuju haji mabrur.” Puji Tuhan, ketika orang lain menjauh, mementingkan dirinya sendiri, ibu ini justru mendekat. Ingin berhaji sembari merawat nenek yang belum lama dikenalnya. Sebuah pilihan yang sangat mengejutkan kami semua. Plong, masalah terpecahkan dengan sangat mudah dengan hadirnya ibu sederhana, tapi dengan spiritualitas autentik.

 

Perkembangan ego

Sudah menjadi fi trah, setiap orang memiliki ego. Kedirian, aku, sifat ananiyah, mementingkan diri sendiri. Itu pula sebabnya perkembangan ego menjadi salah satu topik yang menarik perhatian para ahli psikologi. Mudahnya, kita dapat mendefinisikan ego sebagai kebanggaan terhadap diri sendiri. Pikiran bahwa hidup saya, istri dan anak-anak saya harus memperoleh kebahagiaan dan sebagainya timbul dari ego ini. Sampai batas tertentu, ego sebenarnya diperlukan bagi individu untuk dapat bertahan hidup dan terus berkembang.

 

Sejak kecil, secara alami ego berkembang sebagai respons terhadap kekuatan dalam dan kekuatan lingkungan sosial. Dalam teori perkembangan psiko-sosial Erikson, ego bersifat adaptif dan kreatif, berjuang aktif (otonomi) membantu diri menangani dunianya. Namun, jika karena satu dan lain hal yang tidak sehat, ego dapat mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang irasional, perasaan bersalah yang berkepanjangan, atau membatasi diri dan tidak peduli terhadap orang lain. Perkembangan ego yang tidak sehat, bukan saja tidak membahagiakan yang bersangkutan, melainkan juga tidak banyak memberikan manfaat kepada orang lain.

 

Menurut Erikson, ego sebagian bersifat taksadar, bertugas mengorganisasi dan menyintesiskan pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang. Terdapat tiga aspek ego yang saling berhubungan, yaitu body ego (mengacu pada pengalaman individu dengan tubuh/ fi siknya sendiri), ego ideal (gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, yang bersifat ideal), dan ego identity (gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial). Ketiga aspek itu terus berkembang dalam setiap tahap perkembangan, hanya mengalami akselerasi pada masa dewasa (Salkind, 2004).

 

Secara doktrinal, dalam ajaran agama apa pun, orang beriman selalu digambarkan sebagai sosok yang peduli kepada orang lain, bermanfaat bagi orang banyak, pelayan umat dan semacamnya. Pencapaian perjalanan spiritual seseorang, karena itu, ditandai dengan semakin peduli kepada nasib orang banyak, mampu semakin memberi manfaat bagi sesama, dan berorientasi pelayanan. Egosentrisme, nafsu untuk mementingkan diri sendiri sudah dibuang jauh-jauh, dan diganti dengan altruisme. Semangat untuk membantu mengembangkan potensi orang lain. Bukan sebaliknya, membuat kerusakan di muka bumi, menghancurkan peradaban.

 

Pembelajaran agama yang eksklusif, yang lebih menekankan pada dikotomi iman dan kafi r, dalam banyak kasus lebih banyak melahirkan cara pandang yang hitam-putih dalam melihat dinamika kehidupan. Ritual agama yang dilakukan, seperti tidak punya kaitan dengan penyelesaian persoalan kemanusiaan universal. Semangat yang dibangun lebih kepada kesalehan individual, dan kurang mengedepankan ke salehan sosial.

 

Sayang, spiritualitas yang seharusnya dapat mengantarkan penghayatnya kepada pengalaman puncak, transendensi diri, malah banyak terdistorsi hanya menjadi hiburan. Tuhan, agama, diperlakukan seperti pesawat televisi. Dilihat jika dibutuhkan, dan dipindah program atau malah dimatikan manakala di rasa sudah tidak cocok dengan kebutuhan. Tuhan dipanggil saat kita memerlukan, tapi di tinggal ketika orang sudah merasa mampu berjalan sendiri. Bahkan, agama sering digunakan sebagai sarana untuk dapat meraih kemenangan dalam banyak kontestasi. Keikhlasan yang banyak dipelajari telah tergantikan dengan tipu-daya.

 

Mengembangkan spiritualitas

Penelitian psikologi banyak menjelaskan, spiritualitas tidak berbanding lurus dengan penguasaan pengetahuan agama. Tidak sedikit orang dengan pengetahuan agama mumpuni tapi spiritualitasnya kurang berkembang dengan baik. Sebaliknya, banyak orang awam dengan pengetahuan agama terbatas tapi memiliki penghayatan agama yang mengagumkan. Agama bagi mereka ini, seperti kata para tetua Jawa, agemaning ati. Agama adalah pakaian hati. Berbeda dengan para ahli studi agama, yang menjadikan agama lebih sebagai objek kajian, dan karenanya bersifat kognitif-akademis. Para penghayatan agama memperlakukan agama sebagai jalan hidup.

 

Campbell (2012) menawarkan tiga cara agar kita mampu mendapatkan pencerahan spiritual. Pertama, become aware. Membiasakan diri merenung, berefl eksi terhadap apapun yang dilihat, dibaca, dan dialami sepanjang hari. Karenanya kita disarankan untuk menggunakan waktu jeda sebagai momen kontemplasi, membangun kesadaran baru. Kedua, journal. Menurut Campbell, penjurnalan dapat membantu kita mendapatkan kejelasan dan terhubung dengan spirit. Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu, Apa yang saya pelajari tentang diri saya sendiri? Apa yang penting bagi saya sekarang? Adakah sesuatu yang berharga hari ini? Akan lebih mendalam jika dilengkapi dengan, “Bagaimana saya bersikap welas asih hari ini? Jawaban terhadap aneka pertanyaan itu kemudian dilanjutkan dengan menuliskan impian, keprihatinan dan perasaan kita--dan membuat daftar ucapan terima kasih atas segala hal yang patut kita syukuri.

 

Ketiga, be curious. Keingintahuan dan kebaruan adalah cara yang sangat penting dalam menemukan esensi spiritualitas kita. Ini termasuk melakukan satu hal yang berbeda setiap hari, seperti pulang ke rumah dengan cara baru, membaca buku dari genre yang tidak pernah kita baca, atau benar-benar mencoba sesuatu yang baru. Lakukan hal-hal yang dapat menyulut rasa kedahagaan spiritual dan cari inspirasi dari mana pun datangnya. Jika kita ingin terus berkembang secara spiritual, keterbukaan pemikiran keagamaan menjadi kata kunci penting. Segala macam kejumudan dan taklid buta tidak akan banyak manfaatnya bagi upaya pengembangan spiritualitas autentik.

 

Khoiruddin Bashori, Psikolog Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta | Media Indonesia, 4 September 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works