In Memoriam SRP PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 

 

PADA 7 September 2017, pukul 05.10 WIB. Samsu Rizal Panggabean (SRP) kembali kepada Sang Pemilik. Sebagai teman yang melebihi saudara, kabar ini sangat menyesakkan dada. Usia 56 tahun bagi saya masih terbilang muda untuk ukuran kapasitas keilmuan dan pengalaman kerjanya di bidang perdamaian dan resolusi konflik.

Rizal merupakan tipikal ilmuwan sejati sekaligus praktisi pendidikan yang sangat percaya proses. Kami me mang bersepakat dalam sa tu hal, bahwa setiap proses dalam pendidikan harus dapat dinikmati siapa saja yang terlibat di dalamnya.

 

Rasa kehilangan yang sangat mendalam hingga hari ini masih saya rasakan. Mengenal sosok Rizal sejak 1984 meru pa kan sebuah berkah hidup saya. Tak bisa saya mungkiri, eksistensi saya hari ini melalui rangkaian interaksi sangat intensif dan emosional dengan Rizal.

 

Bagaimana tidak, sebagai mahasiswa baru di IAIN tahun 1984, saya hampir frustrasi melihat bangunan akademik kemahasiswaan yang dipenuhi persaingan tak sehat organisasi kemahasiswaan, sampai akhirnya saya bertemu Rizal dan Taufi k Adnan Amal di Kelompok Diskusi Al-Jami’ah.

 

Plain living, plain thinking

Plain living, plain thinking. Inilah salah satu kalimat yang menurut Saya paling pas menggambarkan sosok Rizal, seorang multibakat. Hampir semua kita yang mengenalnya pasti tertunduk tawadu sambil berdoa jika mendengar kata SRP, seorang ilmuwan sekaligus aktivis kemanusiaan yang tak malu mendeskripsikan pikiran dan perbuatannya secara sederhana. Dalam mengenang SRP, taklimat Ibnu Qayyim membantu kita mengingat sosok yang tetap hidup ini: ‘Sangatlah berbeda, orang yang mati tapi bila menyebut namanya kita merasa hidup, dengan orang yang masih hidup tapi bila menyebut namanya kita merasa mati’.

 

Saya tahu persis kegilaan Rizal terhadap buku, beragam jenis musik dan fi lm. Di kamarnya selalu tersedia buku baru untuk dibaca dan didiskusikan. Soal musik, dari Mozart hingga Pink Floyd, serta The Beatles dinyanyikan Rizal saat kami mencuci baju setiap akhir pekan. Soal fi lm, kami berdiskusi hebat soal Chariots of fire dan Platoon serta No Way Out. Soal makan, Rizal pelopor cukup nasi setengah dan tempe 4 potong! Artinya, uang kiriman lebih banyak dibelikan buku daripada makan enak.

 

Untuk mahasiswa 80-an, Rizal dianggap anomali karena semester 2 sudah membuat ge ger IAIN dengan riset minat baca di lingkungan perpus taka an IAIN. Rizal tak senang jadi ‘kuli seminar’ sebagaimana mahasiswa saat itu yang se nang menyelenggarakan se minar memanggil tokoh. Kami di Kelompok Diskusi Al-Jami’ah pelopor seminar mandiri ketika menyelenggarakan seminar tentang tafsir di Indo-Pakistan dan Mesir, kami justru mempresentasikan hasil riset kami, sementara Ka rel Steenbrink dan tokoh lain nya kita undang sebagai pembanding.

 

Di pintu kamar kosnya, dengan spidol merah dan hijau, tulisan Plain Living, Plain Thinking seolah ingin menggambarkan keyakinannya bah wa seseorang haruslah hidup dan terus berpikir dalam norma kesederhanaan.

 

Tiga episode

Rizal menamatkan program masternya di Institute for Conflict and Resolution (ICAR), George Mason University. Kepeduliannya terhadap konfl ik dan upaya damai menjadi alasannya. Dalam benaknya saat itu, RI yang sangat beragam ini pasti rawan konflik dan butuh ahli yang memahami aspek-aspek resolusi konfl ik secara baik.

 

Menyusul Rizal beberapa ta hun kemudian, saya pun ditakdirkan Tuhan menempuh program master di universitas yang sama, tetapi mengambil spesialisasi pada leadership education. Ketika saya memperoleh kesempatan menikmati mata kuliah resolusi konfl ik di ICAR meski hanya satu semester, saya sadar SRP benar bahwa konfl ik harus dipahami secara baik dan benar karena ini masalah keseharian manusia.

 

Ketika bencana tsunami dan gempa di Aceh terjadi di penghujung 2004, pada hari ketiga saya berinisiatif menjadi relawan dan berangkat ke Aceh. Sesampai di Aceh saya dan SRP intens berkomunikasi tentang apa yang bisa kita lakukan untuk membantu. SRP bilang ke saya, “Wi, kau gak usah ikut evakuasi mayat karena kau gak akan kuat. Lebih baik keliling camp pengungsian dan catat masih berapa ba nyak guru dan siswa yang ada.” Saran SRP jelas menjadi pertimbangan saya juga untuk mencoba memikirkan pola bantuan yang diperlukan.

 

Episode gempa dan tsunami Aceh layak saya sebut sebagai perjalanan spiritual kami. SRP secara sekenanya mengusulkan program PUAS, Pendidikan untuk Aceh dan Sumatra. Dengan bermodalkan data siswa dan guru, saya dan SRP, dibantu Mas Komaruddin Hidayat, Hamid Basyaib, dan Sandra Hamid merekrut 40 mahasiswa. PUAS bertahan kurang lebih 14 bulan di sekitar 20 ti tik tenda sekolah darurat mu lai Calang hingga Krueng Raya. Saya juga memperoleh bantuan UNICEF berupa school in the box yang dijadikan alat belajar di tenda pengungsian.

 

Karena keterbatasan dana, tak jarang SRP berucap bahwa satu-satunya organisasi nirlaba di Aceh yang miskin ialah PUAS. Namun, justru itu membuat ikatan batin kami bertambah hebat dan kuat.

 

Setelah selesai dengan PUAS, saya dan SRP juga menjalani takdir kami mengelola sekolah yang dibangun Bapak Surya Paloh, Sekolah Sukma Bangsa di Pidie, Bireun dan Lhokseumawe. Dalam pandangan saya dan SRP, sekolah ini harus memiliki ciri khas sebagai sekolah yang membawa pesan abadi perdamaian pasca-Aceh mengalami konfl ik berkepanjangan. Kami berdua percaya, hanya pendidikan yang baik dan benar sajalah memiliki kemampuan merawat jalan damai di Aceh. Sekolah Sukma Bangsa, dengan visi dan misinya, ingin dikenang sebagai perawat perdamaian di Aceh.

 

Episode kedua di Sekolah Sukma Bangsa ditandai dengan usul SRP agar kita menuliskan apa yang kita alami dan rasakan selama 10 tahun mengelola Sekolah Sukma Bangsa. Hasilnya, kami berhasil membuat 9 jilid buku tentang kiprah kami dalam 10 tahun mengelola Sekolah Sukma Bangsa, yang salah satu masterpiece buku itu ialah warisan tak ternilai SRP, yaitu Manajemen Konfl ik Berbasis Sekolah (MKBS).

 

Sebagai kelanjutan dan merupakan bagian tak terpisahkan dari dua episode di atas, saya dan SRP juga terlibat aktif dalam proses negosiasi pembe - basan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Pemahaman yang sangat kuat tentang tata cara mengelola konflik dan melakukan negosiasi terlihat pada diri SRP. Saya dan SRP percaya, proses negosiasi kita harus berbeda, dan kita percaya dengan menawarkan pendidikan kepada anakanak Mindanao yang kurang beruntung adalah cara tepat melakukan proses negosiasi itu. Pendekatan pendidikan, mendekati para pendidik di Mindanau, memanusiakan para anggota Abu Sayyaf dari kacamata pendidikan jauh lebih efektif dari sekadar menawarkan uang tebusan.

 

Terima kasih Nyong, for always being there with me. Rest in peace Samsu Rizal Panggabean, dan Tuhan pasti sudah memaafkan semua kesalahan dan kekhilafanmu selama di dunia. Allahumma ighfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu.

 

Ahmad Baedowi, Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta | Media Indonesia, 11 September 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works