Pendidikan Mengubah Hidup PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 

SEWAKTU masih nyantri di Pondok Pabelan, Magelang, ada nasihat kiai yang masih melekat di hati, bahwa seseorang akan naik derajat karena ilmu pengetahuan, akhlak (integritas), dan membuang jauh-jauh si kap malas. Coba kita amati ke hidupan sosial sekeliling. Banyak keluarga desa miskin berubah nasib ketika salah satu anak dan warganya mem peroleh pendidikan bagus yang mengantarkan pada karier ekonomi yang lebih baik, dan pada urutannya bisa membantu pendidikan saudara-saudaranya.

 

Saya sering bertanya pada teman yang sudah sarjana dan sudah memperoleh pekerjaan, bagaimana rasanya sudah ker - ja? Rata-rata menjawab gem - bira karena bisa memban tu biaya pendidikan adik-adiknya.

 

Bahkan pertanyaan serupa juga saya ajukan ke PRT (pembantu rumah tangga), jawabnya sama. Gaji yang di terima sebagian ditabung un tuk membantu pendidikan keluarganya.

 

Artinya, masyarakat sangat menyadari untuk mengubah nasib seseorang, pendidikan satu-satunya jalan yang mesti ditempuh. Orangtua yang berhasil mengantarkan pendidik an anak-anaknya yang berkualitas jauh lebih berharga daripada mewariskan harta tanpa disertai pendidikan.

 

Pada zaman modern, pendi - dikan itu diintegrasikan dengan sistim sekolahan sehingga orang yang berpendidikan artinya mereka yang memiliki ijazah resmi sebagai tanda tamat dan sewaktu-waktu ija - zah itu diperlukan untuk melamar pekerjaan dan menaiki jenjang karier. Sekalipun kita kecewa dengan kualitas pendidikan di Tahah Air, sistem pendidikan di sekolah tetap kita butuhkan. Dalam skala nasional kita bisa membandingkan, wilayah dan etnik yang maju selalu ber korelasi dengan tradisi dan tingkat pendidikan yang sudah mapan. Jika dibandingkan dengan masyarakat lain, penduduk Jawa lebih maju karena memiliki tradisi sekolah yang sudah tua dan mapan. Per guruan tinggi yang bagusbagus berada di Jawa. Belum la gi kondisi alamnya yang su bur. Namun, pemerintah mesti mendorong tumbuhnya pusat-pusat pendidikan yang bagus secara merata di seluruh Tanah Air.

 

Sekarang ini dunia pendidikan, mau tak mau, terseret ma suk pada persaingan mutu pro duk layaknya dunia industri. Lembaga pendidikan yang tidak bisa menghasilkan alumnus yang berkualitas dan kompetitif dalam lapangan kerja akan menyusut peminatnya.

 

Prestasi sebuah sekolah dan universitas tidak bisa la gi sekadar memperbanyak wisudawan-wisudawati tanpa yang bersangkutan memiliki kedalaman, teori ilmiah, skill, kemampuan komunikasi sosial dan integritas.

 

Ketika melamar pekerjaan, semata mengandalkan ijazah tidak jaminan diterima tanpa tambahan pendukung lain, misalnya, pengalaman kerja, kemampuan berbahasa asing keterampilan komputer dan komunikasi sosial. Situasi ini jauh berbeda dari tahuntahun jauh sebelumnya ketika jumlah sarjana masih sedikit sehingga siapa pun memiliki ijazah menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan.

 

RI beruntung punya tetangga Australia, Singapura, dan Malaysia sehingga dihadapkan pada persaingan dan pembelajaran langsung dari kemajuan mereka dalam memajukan pen didikan. Sekitar 100 tahun lalu orang memandang Australia tak lebih sebagai da ratan luas yang tandus di ba wah koloni Inggris, tempat pembuangan penjahat kulit pu tih dari daratan Eropa. Te - tapi sekarang Australia berhasil membangun peradaban moderen dan menjadi tujuan pendidikan dari berbagai nega ra asing, termasuk dari Indonesia.

 

Berkat pendidikan yang dikelola serius dan maju, salah satu sumber devisa Australia datang dari sektor pendidikan, di samping sumber alamnya yang dapat dieksplorasi dan dikelola dengan sangat baik. Begitu pun Singapura yang dulu miskin ketika lepas dari Malaysia, sekarang menjadi negara kota yang sangat maju dalam industri pendidikan yang berdampak pada kemajuan jasa kesehatan dan keuangan sebagai hub kemajuan ekonomi Asia Tenggara.

 

Lagi-lagi, pendidikan lah yang telah mengubah Singapura menjadi salah satu negara kota termodern tidak hanya di Asia Tenggara, tapi juga dunia. Yang juga membuat kita terpana, kemajuan pendidikan di Malaysia. Pusat-pusat pendidikan di sana dibangun dengan standar internasional, termasuk bahasa pengantarnya.

 

Putra-putri Malaysia yang terbaik dijaring lalu dikirim keluar negeri untuk belajar di perguruan tinggi ternama di dunia dalam rangka mendongkrak program dan standar in ternasionalisasi pendidikan di dalam negerinya ketika alumninya kembali ke Malaysia. Dan ini sudah berlangsung tiga generasi secara masif.

 

Jumlah universitas di Indonesia lebih dari 4.000, lebih banyak daripada jumlah pergu ruan tinggi di Tiongkok. Na mun kualitasnya masih me - dioker, alias pas-pasan, jauh di bawah Singapura.

 

Kekalahan kontingen olahraga RI di SEA Games yang berada di nomor lima mengindikasikan pembinaan bakat dan bibit unggul anak-anak bangsa tidak berjalan bagus, untuk tidak mengatakan kedodoran.

 

Saya pernah mendengar cerita, dulu Bung Karno mengi - rimkan putra-putri bangsa terbaik untuk mendalami sains dan teknologi ke negara maju dengan harapan kekayaan alam Indonesia dieksplorasi bangsa sendiri. Namun, agenda Bung Karno berantakan, lalu yang lebih menonjol orang belajar ke luar negeri untuk mendalami ilmu sosial, terutama ke Barat (AS).

 

Gagasan Bung Karno ini diteruskan BJ Habibie dengan mengirim putra-putri terbaik untuk belajar sains, tapi lagilagi karena turbulensi politik banyak dari mereka yang tidak pulang ke Tanah Air lalu memilih berkarier di luar negeri.

Saat ini RI memiliki sarjana ilmu sosial yang jauh lebih banyak daripada sarjana bidang sains. Fenomena ini berpengaruh pada perkembangan ekonomi dan politik. Kata demokrasi seakan jadi mantra suci yang selalu muncul dalam wacana sosial. Orang lebih di sibukkan wacana dan manuver politik menghadapi pilkada dan pemilu, tetapi lemah sekali dalam inovasi sains serta pengembangan bidang industri manufaktur.

 

Kita jadi mangsa empuk dan menggiurkan bagi negara produsen dan eksportir asing karena jumlah penduduk Indonesia yang tinggi dan sumber alamnya yang melimpah, padahal SDA semakin menipis dan lingkungan rusak. Pada para siswa kita tidak bisa lagi memberikan harapan besar atas belas kasih alam, tanpa dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Pembelajaran ilmu sejarah di sekolah perlu diubah materinya. Tidak hanya fokus pada sejarah Indonesia, tetapi perlu sejarah komparatif bangkitnya negara-negara di Asia agar siswa memiliki kesadaran dan tantangan membangun bangsa sendiri di tengah persaingan global.

 

Komaruddin Hidayat, Dewan Penasihat Yayasan Sukma, Jakarta MI, 12 September 2017

 

Sponsor

Penerimaan Siswa Baru Klik disini!
Banner
---FIRST COME FIRST SERVED---



Copyright@Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe
a school that works