
Ketika Ujian Tidak Lagi Tentang Rumus, Tetapi tentang Empati
Senin 08 Desember 2025, seperti sekolah-sekolah yang lain, Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe juga me-laksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk siswa-siswinya. Tetapi dengan cara yang berbeda. Di tengah kondisi seperti ini, Sukma Bangsa berusaha untuk tidak menjadikan ujian sebagai formalitas saja, tetapi juga mendorong siswa-siswi agar bisa mengamati dan memahami situasi saat ini.

Selama saya bersekolah, ini adalah kali pertama saya mengikuti ujian akhir yang berbeda dari biasanya. Saat ini, tidak ada ujian yang menghitung massa pada suatu benda ataupun mencari nilai x yang belum diketahui. Awalnya, saya masih merasa bingung dengan ujian kali ini. Tapi, setelah mengikuti ujiannya, saya tersadar, bah-wa ini bukan sekedar ujian yang hanya menghafal jawaban, lalu di tulis di kertas. Tetapi ini juga melatih kami agar bisa berpikir secara kritis saat menjawab soal-soal yang telah diberi. Ujian seperti ini juga sangat berman-faat untuk siswa-siswi. Karena dilatih agar bisa menganalisis suatu kejadian, membantu siswa-siswi agar bisa memahami dan juga menyimpulkan suatu kejadian. Lalu, juga bisa menumbuhkan rasa empati dan kepedulian bagi sesama.

Karena ujian kali ini berbeda dari biasanya, saya me-rasa ini adalah pengalaman baru yang sangat seru. Karena saat mengikuti ujian, saya harus berpikir lebih mendalam, untuk bisa menganalisis, dan memahami kondisi tersebut. Teman-teman saya ada yang terdam-pak banjir, pengalaman merekalah yang menambah pengetahuan saya terkait bencana ini. Sehingga, saya memasukkan beberapa cerita-cerita mereka ke dalam jawaban saya.

Hikmah dari ujian kali ini adalah melatih saya agar bi-sa lebih fokus, dan juga bisa berpikir secara kritis. Lalu di ujian ini juga menyadarkan saya tentang pentingnya menganalisis dan memahami suatu konteks. Menaruh rasa empati dan kepedulian terhadap pengalaman ya-ng dialami teman-teman saya.
Penulis: Emira Khairunnisa, siswi kelas X Cano Cristales



