
Memulai dengan Hati: Merajut Kembali Nilai-nilai Positif di Hari Pertama Sekolah
Hari pertama sekolah sering kali menjadi momentum penting bagi seluruh warga sekolah. Tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru, tenaga kependidikan (tendik), dan staf pendukung sekolah. Suasana yang sama juga dirasakan oleh warga sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, termasuk jenjang SMP. Senin, 5 Januari 2025 menjadi hari pertama siswa dan guru SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe berkiprah kembali, membersamai siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk itu, sekolah berupaya semaksimal mungkin membangun interaksi yang sarat kehangatan, kebersamaan, serta pembiasaan hal-hal positif.
Dalam upaya mencapai hal tersebut, SMP Sukma Bangsa yang terdiri atas kepala sekolah dan wali kelas melaksanakan kegiatan bersama, yaitu Refleksi Kode Etik, sebagai wadah penguatan nilai-nilai positif. Kegiatan ini berlangsung pada Senin siang di area selasar Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe dan diikuti oleh siswa SMP kelas VII dan VIII. Mekanisme kegiatan dirancang sedemikian rupa guna me-rewind ingatan siswa terkait aturan dan kode etik yang berlaku di sekolah, khususnya budaya 5S dan 4 No.
Kegiatan Refleksi Kode Etik dilaksanakan dalam lima sesi (tahapan). Seluruh sesi dirampungkan bersama wali kelas masing-masing. Mekanismenya, seluruh siswa mem-bentuk barisan melingkar, duduk di area selasar, dan mendengar-kan arahan wali kelas dalam setiap sesi kegiatan. Sesi pertama dimulai dengan pembukaan dan penciptaan ruang aman. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk ber-pendapat serta menyampaikan kemungkinan pelanggaran kode etik yang pernah dilakukan. Hal ini bertujuan agar siswa lebih terbuka dan jujur terkait perilakunya selama berada di sekolah. Sesi ini tidak bersifat menghukum, melainkan menjadi ruang untuk saling memperbaiki diri apabila pernah melanggar kode etik atau aturan sekolah.
Sebelum memasuki kegiatan inti, sesi diselingi dengan ice breaking Lampu Merah–Lampu Hijau. Peraturannya sederhana: wali kelas selaku pemandu kegiatan menyampaikan contoh perilaku yang berkaitan dengan kode etik, kemudian siswa mengangkat tangan kanan atau kiri untuk menunjukkan pernah atau tidak pernah melakukan perilaku tersebut. Kegiatan ini sederhana, namun mampu mencairkan suasana serta mengantarkan siswa pada topik perilaku dan kode etik.
Selanjutnya, siswa diarahkan mengikuti dua sesi ber-kelanjutan, yaitu refleksi individu dan refleksi terbimbing. Pada refleksi individu, masing-masing siswa memperoleh kesempatan untuk bersikap jujur dan terbuka melalui lembar refleksi. Sesi ini berlangsung secara pribadi dan rahasia, hanya antara siswa dan lembar refleksi yang ditulisnya. Kemudian, dalam sesi refleksi terbimbing, siswa secara bergiliran menyampaikan hal-hal yang telah dipelajari serta perbaikan yang akan dilakukan di masa depan, tanpa menyebutkan jenis pelanggaran yang pernah dilakukan. Hal ini membantu siswa untuk tetap optimis dan percaya bahwa segala sesuatu dapat dibenahi, termasuk sikap dan perilaku.
Siswa kemudian memasuki sesi terakhir, yaitu penutup: komitmen dan harapan. Sesi ini menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan resolusi ke depan yang memuat komitmen dan harapan dalam mematuhi kode etik Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Setelah menyampaikan-nya, binar harapan positif terpancar dari wajah mereka. Seluruh siswa tampak ingin berbenah diri dan ber-komitmen untuk mematuhi aturan yang berlaku di sekolah.
Kegiatan Refleksi Kode Etik ini berlangsung dengan khidmat dan lancar. Seluruh siswa bersama wali kelas saling terbuka dan melakukan introspeksi diri terkait perilaku pada semester sebelumnya. Oleh karena itu, seluruh pihak menaruh harapan positif terhadap keberlanjutan kegiatan ini. Semoga ke depannya, kode etik yang berlaku di sekolah tidak hanya diucapkan sekilas atau sekadar tertulis rapi dalam buku kode etik, melainkan benar-benar terpancar dalam sikap dan perilaku seluruh warga Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, khususnya pada jenjang SMP.
Penulis: Rayhanum Jannah, S. Pd, guru Bahasa Indonesia SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe



