
Menelusuri Jejak Sejarah Kapal Apung, Saksi Bisu Tsunami

Banda Aceh, 13 November 2025 — Siswa kelas VIII SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe melanjutkan rangkaian kegiatan Class Visit di Banda Aceh dengan penuh semangat. Pada hari kedua, mereka berkesempatan mengun-jungi Monumen Kapal PLTD Apung, sebuah kapal pembangkit listrik berbobot sekitar 2.600 ton yang terseret dari laut dan terdampar di kawasan permukiman warga akibat tsunami tahun 2004. Kunjungan ini bertujuan agar sis-wa dapat mempelajari secara langsung sejarah kapal tersebut, memahami dampak bencana, menyaksikan bukti nyata dari peristiwa tsunami, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keselamatan, kewaspadaan, dan ketangguhan masyarakat Aceh.

Di lokasi monumen, para siswa disambut oleh Kak Nora, pemandu wisata yang juga merupakan saksi hidup pe-ristiwa tsunami 2004. Kak Nora membagikan kisah pengalamannya, mulai dari dahsyatnya terjangan air yang mencapai bagian cerobong kapal hingga perjuangannya bersama warga untuk menyelamatkan diri. Cerita yang disampaikan dengan pengalaman nyata tersebut begitu menyentuh dan membuat siswa seolah turut merasakan ketegangan serta kepanikan yang terjadi saat bencana melanda. Menariknya, pascatsunami Kak Nora direkrut untuk bersekolah di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen, sehingga memiliki keterikatan khusus dengan keluarga be-sar Sukma Bangsa. Kehadirannya memberikan pengalaman belajar yang lebih hidup, karena siswa tidak hanya memperoleh informasi sejarah, tetapi juga mendengarkan langsung kesaksian dari pelaku peristiwa.

Selain berbagi kisah pribadi, Kak Nora juga menyampaikan dua pelajaran penting kepada siswa, yaitu tentang il-mu pengetahuan dan nilai-nilai budaya. Kunjungan pada hari kedua ini menjadi pengalaman yang sangat ber-makna bagi siswa SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe. Melihat kapal apung secara langsung membantu mereka memahami lebih dalam tentang sejarah dan tragedi tsunami, sekaligus menyadari pentingnya kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap bencana. Melalui monumen kapal apung ini, Kak Nora menegaskan bahwa kapal tersebut menjadi simbol semangat kebangkitan masyarakat Aceh yang mampu bertahan dan bangkit kembali setelah menghadapi bencana besar.
Penulis: Athifa Salsabila dan Farah Atsiilah, siswi kelas VIII Plumeria Rubra



