
RESEP SUKSES DARI PESISIR DAN SIMPANG JALAN
Pada Kamis, 5 Februari 2026, siswa angkatan kelas XI Sekolah Sukma Bangsa berkesempatan mengunjungi dua titik UMKM pangan di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung bagaimana dapur industri lokal bekerja, mulai dari pesisir Uteun Bayi hingga persimpangan Simpang KKA.
Dendeng Ikan Narasa (Uteun Bayi, Lhokseumawe)
Saat kami mengunjungi Dendeng Narasa, pandangan kami langsung berubah. Ternyata “pabriknya” berada di rumah sendiri dan owner-nya adalah ustad yang mengajar tahsin dan tahfidz di sekolah kami. Dari luar terlihat seperti rumah biasa, tetapi di dalamnya ada aktivitas produksi yang serius dan terorganisir. Kami sempat terkejut sekaligus kagum. Di ruangan yang tidak terlalu besar itu, proses pembuatan dendeng dilakukan dengan rapi. Daging dipilih dengan kualitas yang baik, lalu diiris tipis secara manual maupun menggunakan alat sederhana. Setelah itu dibumbui dengan racikan khas yang sudah dijaga turun-temurun. Kami melihat sendiri bagaimana proses penjemuran atau pengeringan dilakukan dengan hati-hati agar teksturnya pas, tidak terlalu kering dan tidak terlalu lembek.

Hal yang membuat kami semua semakin kagum adalah bagaimana usaha rumahan ini bisa berkembang dan memiliki pelanggan tetap. Meskipun dimulai dari rumah, standar kebersihannya tetap dijaga. Pengemasan dilakukan dengan rapi dan sudah menggunakan label serta branding yang menarik.
Saat dijelaskan oleh Pak Muhammad tentang proses produksi Dendeng Narasa ini, kami jadi tau aspek utama yang sangat diperhatikan adalah pemilihan bahan baku, di mana hanya ikan segar dengan kualitas terbaik yang digunakan untuk menjamin cita rasa. Kami juga melihat teknik penyayatan ikan yang dilakukan dengan presisi tinggi, diikuti dengan proses pembumbuan rahasia yang memadukan rasa manis dan gurih hingga meresap sempurna.
Momen menarik terjadi ketika salah satu teman kami bertanya kepada pak Muhammad yang sedang menunjukkan bahan baku ikan, “Pak, kira-kira tantangan apa yang paling berat dilalui pada saat membuat dendeng ini?” Bapak tersebut menjelaskan bahwa tantangan terbesar mereka adalah faktor cuaca. Karena proses pengeringan masih sangat bergantung pada sinar matahari alami, cuaca yang sering berubah-ubah secara tidak menentu menjadi kendala utama dalam memastikan kecepatan dan kualitas pengeringan ikan. Standar higienitas pun tetap menjadi prioritas utama mereka, terutama untuk menjaga agar ikan tetap bersih meskipun harus menghadapi ketidakpastian cuaca di pesisir.
Tahu dan Susu Soya NS (Simpang KKA, Aceh Utara)
Perjalanan kami berlanjut menuju Tahu dan Susu Soya NS yang berlokasi di area strategis Simpang KKA. Begitu memasuki area produksi, kami langsung disambut oleh pamflet bertulisan “Welcome Sukma Bangsa Lhokseumawe”, serta uap panas yang membubung dan kesibukan para pekerja yang sangat terorganisir. Kami menyaksikan transformasi luar biasa dari biji kedelai pilihan yang direndam, digiling, hingga dimasak dalam suhu tinggi untuk menghasilkan sari kedelai berkualitas. Proses penyaringan dan penggumpalan protein kedelai di sini dilakukan dengan sangat teliti untuk memastikan tekstur tahu yang dihasilkan tetap putih bersih, padat namun lembut, serta bebas dari bahan pengawet berbahaya.

Pemilik pabrik pengolahan Tahu dan Susu Soya NS adalah alumni Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Beliau menjelaskan secara rinci proses produksi Susu Soya NS, yaitu dimulai dari penyortiran kedelai untuk memastikan tidak ada kotoran atau batu yang tercampur. Setelah itu, kedelai dicuci hingga bersih dan direndam selama kurang lebih 6–8 jam agar teksturnya menjadi lunak dan mudah digiling. Kemudian digiling menggunakan mesin dengan tambahan air hingga menghasilkan bubur kedelai berwarna putih. Bubur kedelai tersebut disaring untuk memisahkan ampas dan sari kedelai. Sari kedelai inilah yang menjadi bahan dasar susu soya.
Proses berikutnya adalah perebusan sari kedelai hingga mendidih sambil terus diaduk agar tidak gosong. Pada tahap ini ditambahkan gula sesuai takaran untuk memberikan rasa manis yang pas. Setelah matang, susu soya didinginkan terlebih dahulu sebelum dikemas ke dalam botol atau plastik kemasan dengan tetap menjaga kebersihan. Dari kegiatan ini, kami memahami bahwa pembuatan susu soya memerlukan ketelitian, kerja sama, serta perhatian terhadap higienitas agar menghasilkan produk yang berkualitas dan layak dikonsumsi.
Di sela-sela pengamatan, suasana menjadi cukup cair ketika salah satu teman kami mencoba menanyakan sisi finansial dari bisnis yang terlihat sangat sukses ini. Ia bertanya, “Pak, jika melihat skala produksinya yang sudah sebesar ini, berapa modal awal yang Bapak keluarkan untuk membangun pabrik Tahu NS?” Mendengar pertanyaan tersebut, Bapak pengelola tersenyum ramah namun menjawab dengan nada bercanda, “Wah, kalau soal itu, itu rahasia dapur perusahaan kami ya.” Meskipun jumlah modal tetap menjadi rahasia, beliau menekankan bahwa yang lebih penting dari sekadar angka modal adalah konsistensi dalam menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan selama bertahun-tahun.
Selain itu, kami juga menanyakan mengenai tantangan operasional saat ini, terutama terkait dengan implementasi program MBG (Makan Bergizi Gratis). Owner-nya menjelaskan bahwa transisi menuju pemenuhan standar program tersebut memang menantang, namun mereka telah mengambil langkah proaktif dengan menjalin kerja sama resmi bersama pihak terkait. Hal ini dilakukan demi memastikan bahwa produk tahu dan susu soya dari NS tetap menjadi garda terdepan dalam menyuplai asupan protein nabati yang sehat bagi masyarakat luas.

Kunjungan ini memberikan inspirasi mendalam tentang pentingnya ketahanan pangan lokal dan semangat kewirausahaan. Kami belajar bahwa inovasi bisa lahir dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita jika dikelola dengan kegigihan dan kreativitas. Kami pulang dengan membawa pengetahuan baru bahwa masa depan ekonomi kita ada di tangan-tangan yang kreatif dan tak kenal lelah.
Penulis: Lubna Khayara, siswi kelas XI Salzach, SMA Sukma bangsa Lhokseumawe



