
Pembuatan Miniatur Bangunan Tiga Dimensi
Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) pada materi pembuatan miniatur bangunan dilaksanakan melalui kegiatan praktik yang menekankan pada keterampilan, kreativitas, dan kerja sama peserta didik. Pada kegiatan pembelajaran ini, peserta didik dikenalkan dengan berbagai jenis garis seperti garis lurus, lengkung, dan zigzag, serta bentuk dasar seperti persegi, persegi panjang, segitiga, dan lingkaran.
Guru menyiapkan gambar pola bangunan yang telah disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Guru memberikan penjelasan mengenai langkahlangkah kegiatan, mulai dari mengenali bagianbagian bangunan pada gambar, memahami bentuk dasar yang menyusunnya. Peserta didik menyiapkan alas berupa triplek dan kardus yang telah dibentuk persegi sebagai dasar miniatur. Dengan bimbingan guru, peserta didik menyusun dan merangkai bagianbagian bangunan di atas alas tersebut secara berkelompok. Setelah bangunan utama selesai disusun, peserta didik melanjutkan kegiatan dengan menambahkan elemen pendukung seperti pohon, rumput, dan batu hiasan untuk memperindah serta melengkapi miniatur yang dibuat.

Proses ini melatih koordinasi motorik halus, ketelitian, serta kemampuan bekerja sama antarsiswa dalam menyatukan setiap komponen agar menjadi satu kesatuan miniatur bangunan yang utuh dan proporsional. Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme dan rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan tugasnya masingmasing. Meskipun terdapat beberapa siswa yang masih memerlukan arahan dalam hal kerapian dan ketepatan menempel, secara umum kegiatan berjalan dengan tertib dan lancar.

Setelah proses pembuatan miniatur bangunan tiga dimensi selesai, kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan tahap apresiasi karya. Peserta didik bersama guru memajang hasil miniatur bangunan di ruang kelas pada tempat yang telah disediakan agar dapat dilihat dan dinikmati oleh seluruh peserta didik. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga, percaya diri, serta menghargai hasil karya sendiri maupun karya teman. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan penuh apresiasi, karena peserta didik saling memberikan pujian dan tanggapan positif terhadap karya yang dipajang. Melalui kegiatan memamerkan hasil karya ini, peserta didik belajar bahwa setiap proses kreatif memiliki nilai dan patut dihargai.
Penulis: Fatma Zuhra, S.Pd., guru kelas SDS Sukma Bangsa



