
Sore di Teras Belakang
Sepulang sekolah, aku melempar tas ke atas kursi teras belakang dan duduk menyandar sambil menghela napas panjang. Seperti biasa, Kak Bima sudah ada di sana, siap menjadi tempat untuk semua cerita keluh kesahku hari ini. Sebelum mulai bercerita, aku ke dapur sebentar dan kembali membawa dua gelas teh manis hangat. Satu untukku, satu lagi kutaruh di depannya. Aku selalu menyeduhkan teh untuknya setiap sore, walaupun tahu Kak Bima paling anti minum teh manis hangat dan ujungujungnya gelas itu cuma berakhir dingin tanpa pernah disentuh. Tapi buatku, ritual obrolan kami tidak akan lengkap tanpa dua gelas teh di meja.
“Hari ini kacau banget, Kak,” keluhku, memutar sendok di dalam gelas.
“Aku adu mulut sama Dimas garagara tugas kelompok. Dia egois banget, merasa paling benar di depan anakanak lain. Malu sekaligus capek rasanya.” Kak Bima tidak menyela, dia memang tipe pendengar yang irit bicara. Tapi ketenangan yang dia berikan selalu bisa membuatku nyaman.
Suara jangkrik mulai bersahutan, menandakan sore semakin turun, sementara cahaya jingga di ujung langit perlahan memudar di antara dahan pohon mangga. Aku menyandarkan punggung, menatap sekeliling teras. Gitar akustik kesayangan Kak Bima masih terletak di sudut yang sama, lengkap dengan satu senarnya yang putus. Sudah dari bulan Maret dia belum juga mengganti senar itu, persis seperti kalender dinding di dekat pintu yang lupa dicopot dan masih menunjukkan halaman bulan yang sama.
“Dasar pemalas,” batinku tersenyum kecil.
“Kalau Kakak yang ada di posisiku, pasti Kakak cuma senyum terus bilang ‘ngalah bukan berarti kalah’, kan?” gumamku lagi, merasa emosiku sudah jauh lebih stabil sekarang.
Derit pintu dapur terbuka. Ibu melangkah keluar membawa setangkai bunga lili putih, lalu mendekati meja kami dengan senyum teduh. “Udah mau maghrib, Nak. Yuk masuk, angin sorenya makin dingin,” bujuk Ibu lembut sambil mengelus pundakku.
Tanpa menunggu jawabanku, Ibu menunduk dan meletakkan bunga lili itu di atas meja, tepat di sebelah bingkai foto berukuran sedang yang sedari tadi menghadapku. Ibu mengusap pelan kaca bingkai tersebut, membersihkan debu tipis yang menutupi wajah tersenyum Kak Bima. Untuk sesaat, teras itu hening. Hanya suara gesekan daun mangga dan detak jam dari dalam rumah yang terdengar.
Aku ikut menatap potret itu untuk terakhir kalinya hari ini, membalas senyumnya dalam diam sebelum beranjak menyusul Ibu ke dalam rumah. Kak Bima tidak pernah benarbenar pergi, dia hanya pindah tempat, dari teras belakang rumah ke dalam setiap potongan ceritaku. Dan selama aku masih bisa bercerita, teh manis hangat itu akan selalu ada di meja—dingin atau tidak, disentuh atau tidak.
Penulis: Syarafina, Sisiwi Kelas XI Sao Fransisco



