
Menjelajah Budaya dan Peradaban Malaysia Melalui School Visit Edukatif
Siswa kelas IX SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe me-laksanakan kegiatan school visit edukatif ke Malaysia sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas untuk memperluas wawasan dan pengetahuan internasional. Kegiatan yang berlangsung selama enam hari, dari 9 hingga 14 Mei 2026, ini membawa rombongan mengun-jungi berbagai kota dan destinasi yang memiliki nilai se-jarah, budaya, dan pendidikan yang tinggi, seperti Mela-ka, Putrajaya, Kuala Lumpur, Batu Caves, Istana Nega-ra, serta sejumlah tempat menarik lainnya. Melalui per-jalanan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga kesempa-tan untuk belajar secara langsung dari kehidupan masyarakat di negara tetang-ga.

Selama berada di Malaysia, para siswa mengamati ba-gaimana masyarakat yang berasal dari beragam latar belakang budaya dapat hidup berdampingan secara harmonis. Keberagaman budaya Melayu, Tionghoa, dan India masih terlihat kuat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bahasa, kuliner, hingga tradisi yang terus di-lestarikan. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan. Bagi para siswa, melihat secara langsung kehidupan masyarakat multikultural menjadi pelajaran berharga yang sulit diperoleh hanya melalui buku pela-jaran.
Salah satu destinasi yang memberikan kesan mendalam adalah Kota Melaka, kota bersejarah yang kaya akan peninggalan masa kolonial Portugis. Di kota ini, siswa mengunjungi replika kapal Flor de la Mar, kapal legen-daris yang kini berfungsi sebagai pusat sejarah sekali-gus daya tarik wisata. Melaka menunjukkan bagaimana sebuah kota dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas sejarahnya. Bangunan-bangunan bersejarah tetap dirawat dan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi serta wisata budaya. Dari kota ini, siswa belajar bahwa menjaga warisan sejarah merupakan bagian penting dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Putrajaya dan Kuala Lumpur. Putrajaya yang dikenal sebagai pusat adminis-trasi pemerintahan Malaysia memperlihatkan wajah kota yang tertata rapi, modern, dan penuh kedisiplinan. Kun-jungan ke Masjid Putra semakin menambah kekaguman siswa terhadap keindahan arsitektur dan pengelolaan kawasan perkotaan. Sementara itu, Kuala Lumpur menghadirkan pengalaman berbeda melalui deretan ge-dung pencakar langit, pusat perbelanjaan modern, dan sistem transportasi umum yang terintegrasi dengan baik. Meski berkembang sebagai kota metropolitan, Kuala Lumpur tetap mempertahankan nilai kesopanan dan budaya lokal yang menjadi ciri khas masyarakat Malaysia.

Kunjungan ke Batu Caves menjadi penutup yang sarat makna dalam perjalanan ini. Sebagai salah satu tempat ibadah umat Hindu terbesar di Malaysia, Batu Caves memberikan gambaran nyata tentang pentingnya tole-ransi dan penghormatan terhadap keberagaman. Mela-lui kunjungan tersebut, siswa memahami bahwa masya-rakat Malaysia mampu menjaga kerukunan di tengah perbedaan agama dan budaya. “Menurut saya, budaya Malaysia sangat beragam karena negara ini merupakan negara multikultural. Pengalaman yang paling berkesan bukan hanya tentang tempat-tempat yang kami kunju-ngi, tetapi juga bagaimana kami, siswa kelas IX, dapat menjadikan perjalanan ini sebagai memori yang akan selalu dikenang sebelum berpisah di jenjang SMA nan-ti,” ujar Muhammad Rava Raditya, salah seorang peser-ta School visit. Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi perjalanan wisata, tetapi juga sarana pembela-jaran nyata yang memperkaya wawasan, menumbuhkan sikap toleran, serta menginspirasi siswa untuk belajar dari kemajuan negara lain tanpa melupakan identitas dan budaya bangsa sendiri.
Penulis: Abyan Rafasyah Zahir, siswa kelas IX Saraca Asoka



