
Tiga Hari Merajut Pemahaman dan Kemanusiaan
Halo, semua! Perkenalkan, saya Azkia Dara Phonna dan ini adalah Muhammad Abiyu, rekan saya. Kami berdua saat ini duduk di kelas XI SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe. Atas kepercayaan yang diberikan, kami yang mewakili program Konselor Teman Sebaya (KTS) terpilih untuk menjadi peace makers dalam aksi peduli yang diselenggarakan oleh Indika Foundation.
Dalam program ini, kami mengikuti Peace Camp selama tiga hari dua malam yang bertempat di sekolah kami sendiri. Rentetan hari tersebut menghadirkan segudang pengalaman dan pelajaran baru. Hari pertama kami lalui dengan semangat dan kehangatan yang menyala-nyala. Di sini, kami berkesempatan memperluas pergaulan, tidak hanya dengan sesama pelajar SMA, tetapi juga dengan mahasiswa dan perwakilan komunitas yang hadir dengan membawa rasa ingin tahu dan tekad belajar yang sama. Kami pun diajak untuk merefleksikan diri dan berbagi cerita pribadi bersama Kak Juwi, seorang konselor. Perlahan-lahan, satu per satu dari kami mulai membuka hati, bercerita, mendengar, dan belajar untuk memahami diri sendiri dengan kejujuran yang lebih dalam.

Hari kedua diawali dengan morning exercise yang menyegarkan. Kami kemudian mendapat kesempatan berharga untuk belajar langsung dari BYTRA dan UNHCR Indonesia. Sesi ini membuka wawasan kami tentang ketimpangan akses dalam isu lingkungan dan bagaimana krisis iklim dapat memaksa seseorang kehilangan tempat tinggalnya. Bersama UNHCR Indonesia, kami diajak mendalami akar persoalan yang menyebabkan banyaknya pengungsi di Indo-nesia, serta alasan mendasar mengapa seseorang harus meninggalkan tanah airnya. Dari sini, kami belajar untuk memandang para pengungsi bukan sekadar sebagai “orang asing”, melainkan sebagai manusia utuh dengan kisah hidup dan hak yang se-tara.

Hari terakhir menjadi momen penuh makna yang mengakhiri perjalanan tiga hari ini—sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang merasakan dan terhubung secara manusiawi. Perhentian pertama kami adalah Rumoh Baca Hassan Savvas, sebuah ruang kecil yang menjadi gerbang bagi banyak anak untuk mengenal huruf dan merajut harapan. Di sana, kami menyaksikan langsung bagaimana sebuah gerakan literasi dapat bertumbuh dari kepedulian sederhana dan mengubah hidup banyak orang. Perjalanan kemudian berlanjut ke kamp pengungsi Rohingya. Di balik pagar-pagar sederhana, tersimpan narasi pilu tentang kehilangan, yang diselingi dengan keberanian dan keteguhan untuk terus bertahan hidup. Di lokasi, beberapa peserta asyik bermain futsal bersama pemuda Rohingya, sementara yang lain berbagi keceriaan melalui seni henna dan kegiatan mewarnai bersama anak-anak pengungsi. Momen-momen kebersamaan yang terasa sederhana itu justru mengajarkan pelajaran yang amat berharga: “kemanusiaan tidak mengenal batas.”
Melalui Peace Camp Gerak Dampak Academy ini, kami, para peserta, diajak untuk membuka babak baru sebagai generasi muda yang tidak hanya memaham kompleksitas dunia, tetapi juga berani mengambil peran untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik.
Penulisa: Azkia Dara Phonna dan Muhammad Abiyu, Siswa kelas XI



