
Banjir Aceh: Luka Alam dan Pelajaran Kemanusiaan
Hujan deras yang turun sejak malam hari pada Rabu, 26 November 2025, menyebabkan banjir bandang di sejum-lah wilayah Pulau Sumatra khususnya di Provinsi Aceh, di kawasan Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Pidie Jaya turut terdam-pak, dengan arus air deras yang memasuki pemukiman warga, sekolah, serta fasilitas umum.

Banjir bandang ini terjadi akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Akibatnya, air turun dengan cepat dari daerah hulu, membawa ma-terial lumpur dan kayu, lalu menerjang wilayah yang be-rada di dataran lebih rendah. Peristiwa ini membuat ba-nyak warga harus mengamankan diri dan meninggalkan rumah mereka.

Di balik musibah tersebut, tumbuh nilai empati dan kepe-dulian yang kuat. Sebagai bagian dari masyarakat yang peduli, SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe turut menun-jukkan empati melalui aksi nyata. Warga sekolah mem-buka open donasi berupa uang tunai, mengumpulkan pa-kaian layak pakai, serta melakukan penyaluran sembako secara langsung ke lokasi terdampak banjir bandang. Kegiatan ini melibatkan guru, siswa, dan staf sekolah, sehingga menjadi pembelajaran langsung tentang arti solidaritas dan kepedulian sosial.

Banjir bandang ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan akan selalu berdampak pada kehidupan ma-nusia. Ketika alam tidak dijaga dengan baik, maka ben-cana dapat datang kapan saja. Oleh karena itu, menjaga hutan dan lingkungan sekitar merupakan tanggung ja-wab bersama.
Penulis: Fayra Ayasha, Siswi kelas XI Sao Fransisco



