
Mewariskan Nilai Budaya melalui Pembelajaran Hikayat Aceh
- Posted by Pusdatin
- Date June 4, 2026
Rabu, 6 Mei 2026, siswa kelas X mengikuti kegiatan Guest Teacher Bahasa Indonesia bertema “Analisis Makna dalam Pelestarian Hikayat Aceh”. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam pelajaran ini menghadirkan Bapak Hamdani, S.Pd., selaku guru Bahasa Indonesia sekaligus penulis buku-buku kearifan lokal Aceh. Kegiatan pembelajaran ini menjadi salah satu sesi yang paling dinantikan siswa karena dilaksanakan setelah mereka menyelesaikan materi Teks Hikayat pada semester genap. Sebelumnya, siswa kelas X-Congo dan X-Orinoco yang diampu oleh Ibu Suci Aulia Zahman dan kelas X-Cano Cristales serta X-Loire yang diampu oleh Ibu Dewi Puspita Sari telah mempelajari karakteristik hikayat, nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya, serta berbagai nilai didaktis yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, siswa memperoleh pengalaman belajar yang mendalam terkait bagaimana memaknai hikayat Aceh sebagai bagian dari warisan budaya Aceh.
Pada awal kegiatan, Bapak Hamdani membangun kedekatan dengan siswa melalui kisah perjalanan hidupnya. Beliau menceritakan bahwa ketika masih menempuh pendidikan S-1 pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Syiah Kuala, tidak sedikit orang yang memandang sebelah mata bidang ilmu tersebut. Dengan penuh semangat beliau menyampaikan, “Jangan pernah merasa rendah diri dengan jurusan atau profesi apa pun. Yang membuat seseorang bernilai adalah bagaimana ia menjalani profesinya dengan sungguh-sungguh.” Beliau kemudian menjelaskan bahwa profesinya sebagai guru Bahasa Indonesia telah memberinya kesempatan untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan sekaligus memberikan kehidupan yang layak bagi beliau dan keluarganya hingga saat ini.

Setelah sesi motivasi, materi berlanjut pada pembahasan mengenai hikayat Aceh sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dilestarikan. Bapak Hamdani menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup telah menyebabkan sebagian generasi muda semakin jauh dari tradisi lisan maupun sastra daerah. Menurut beliau, hikayat yang dahulu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kini mulai terdengar asing di telinga sebagian anak muda. Oleh karena itu, mempelajari hikayat bukan hanya tentang memahami cerita masa lampau, melainkan juga menjaga identitas budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
Untuk mengajak siswa lebih dekat dengan budaya daerahnya, beliau kemudian memperkenalkan beberapa kosakata arkais yang terdapat dalam hikayat Aceh. Dengan suasana yang santai, beliau mencoba menanyakan beberapa arti dari kosakata bahasa Aceh. Namun, sebagian siswa tampak berpikir dan saling menoleh sebelum mencoba memberikan jawaban. Dari diskusi sederhana tersebut, siswa mulai menyadari bahwa banyak kosakata lama yang perlahan menghilang dari penggunaan sehari-hari akibat perubahan gaya hidup masyarakat. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa bahasa juga merupakan bagian penting dari warisan budaya yang perlu dijaga.
Suasana belajar semakin menarik ketika Bapak Hamdani menjelaskan bahwa hikayat Aceh tidak hanya berbentuk narasi, tetapi juga ada yang disajikan dalam bentuk sajak. Menanggapi penjelasan tersebut, Ibu Dewi meminta kesediaan beliau untuk menampilkan contoh hikayat Aceh yang autentik agar siswa dapat merasakan langsung nuansa sastra tradisional Aceh. Permintaan tersebut disambut dengan antusias oleh narasumber.
Sebagai bagian dari pengalaman belajar yang lebih mendalam, dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan diminta secara bergantian membacakan hikayat Aceh menggunakan pelafalan bahasa Aceh. Meskipun pada awalnya terlihat sedikit gugup, para siswa berhasil membawakan sajak hikayat dengan baik. Suasana kelas pun berubah menjadi lebih hidup dan penuh semangat. Teman-teman mereka menyimak dengan antusias, bahkan beberapa di antaranya tampak terhibur sekaligus kagum karena dapat mendengar secara langsung bentuk sastra Aceh yang jarang ditemui dalam pembelajaran sehari-hari.


Momen pembacaan hikayat tersebut menjadi salah satu bagian yang paling berkesan dalam kegiatan. Selama beberapa saat, ruang belajar terasa dipenuhi nuansa kearifan lokal Aceh yang autentik. Siswa tidak hanya mempelajari hikayat melalui teori, tetapi juga merasakan bagaimana karya sastra tersebut dihidupkan melalui pelafalan dan irama khas bahasa Aceh. Pengalaman ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya menjaga tradisi sastra daerah agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Pada sesi diskusi, antusiasme siswa kembali terlihat melalui berbagai pertanyaan yang diajukan. Beberapa siswa menanyakan hikayat Aceh yang paling terkenal, cara melestarikan hikayat dan budaya lokal di era modern, serta bentuk-bentuk budaya Aceh lain yang perlu dijaga keberadaannya. Ada pula yang bertanya mengenai kemungkinan melakukan adaptasi atau modifikasi terhadap hikayat agar lebih mudah diterima oleh generasi muda saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga mampu berpikir kritis mengenai relevansi hikayat dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Melihat kualitas pertanyaan yang muncul, Bapak Hamdani menyampaikan apresiasinya kepada seluruh siswa. Beliau mengungkapkan bahwa tingkat pertanyaan yang diajukan siswa kelas X SMA Sukma Bangsa sudah mendekati kualitas pertanyaan yang biasa beliau temui di tingkat perguruan tinggi. Menurut beliau, hal tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kemampuan berpikir kritis yang baik, serta semangat belajar yang patut dibanggakan. Pernyataan tersebut disambut dengan rasa bangga oleh para siswa maupun guru yang hadir.
Menjelang akhir kegiatan, Bapak Hamdani menyampaikan rasa terima kasih kepada Ibu Dewi Puspita Sari dan Ibu Suci Aulia Zahman yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi narasumber dalam kegiatan Guest Teacher Bahasa Indonesia kelas X tahun pelajaran ini. Beliau berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang karena memberikan ruang yang baik bagi siswa untuk mengenal budaya daerah secara lebih dekat. Sebagai bentuk dukungan terhadap budaya literasi sekolah, beliau juga menyerahkan cenderamata berupa buku kearifan lokal Aceh yang diharapkan dapat menambah koleksi perpustakaan sekolah dan menjadi sumber belajar bagi generasi berikutnya.

Secara keseluruhan, kegiatan Guest Teacher ini berlangsung dengan sangat kondusif dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa kelas X. Selain memperdalam pemahaman tentang hikayat Aceh, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya daerah, mengenalkan kembali kosakata-kosakata lama yang mulai terlupakan, serta menginspirasi siswa untuk terus belajar dan menghargai warisan budaya yang dimiliki. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bahasa Indonesia dapat berlangsung secara bermakna, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini.
Penulis: Dewi Puspita Sari, S.Pd., Gr, guru Bahasa Indonesia SMA Sukma Bangsa Lhokseunawe



