
Melaka dalam Kenangan: Jejak Sejarah, Persahabatan, dan Impian di Negeri Jiran
Pada 10 Mei 2026, siswasiswi Kelas IX Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe (SSBL) memulai kegiatan school visit ke Malaysia dengan tujuan pertama Kota Melaka. Selain menjadi perjalanan edukatif, kegiatan ini juga menjadi momen perpisahan yang penuh makna bagi para siswa sebelum menuntaskan masa belajar mereka di SSBL. Melaka dipilih karena menawarkan perpaduan wisata sejarah, budaya, dan arsitektur kelas dunia dalam satu kawasan. Kota yang telah diakui sebagai pusat warisan budaya ini menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menikmati kebersamaan bersama temanteman mereka.

Perjalanan diawali dengan kunjungan ke Restoran Melaka Nyonya Village yang berlokasi di Jalan Parameswara, Taman Melaka Raya. Restoran ini dikenal sebagai tempat makan berkonsep teater budaya yang memadukan kekayaan kuliner Peranakan dengan pertunjukan seni tradisional secara langsung. Berbagai hidangan khas disajikan menggunakan meja kaca putar, mulai dari ayam pongteh, ikan saus nyonya, hingga cendol gula Melaka yang menjadi penutup yang menyegarkan. Selama menikmati santapan, para siswa juga disuguhi pertunjukan Tari Kipas yang diiringi lagu Cinta Dulu Cinta Sekarang serta Tari Payung dengan iringan musik bernuansa ceria. “Entah mengapa semua makanan di Nyonya Village terasa sangat lezat, terutama ikan yang menjadi favorit saya. Dagingnya lembut, gurih, manis, dan renyah sekaligus. Penyajiannya juga menarik, dan para penarinya sangat ramah kepada kami,” ujar Tsaqif, salah seorang siswa Kelas IX.
Usai menikmati makan siang dan pertunjukan budaya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Melaka World Heritage City, kawasan bersejarah yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Setibanya di sana, para siswa disambut oleh pemandangan bangunanbangunan bersejarah yang mencerminkan perpaduan budaya Melayu, Tionghoa, Portugis, Belanda, dan Inggris. Salah satu bangunan yang menarik perhatian adalah Church of Saint Francis Xavier yang berdiri megah dengan warna putih yang mencolok. Tidak jauh dari gereja tersebut terdapat mural tokoh legendaris Melaka, Hang Tuah dan Hang Jebat, yang dikenal luas dalam sejarah dan sastra Melayu. Kesempatan itu dimanfaatkan para siswa untuk mengabadikan momen bersama, menyimpan kenangan yang kelak akan menjadi bagian dari cerita perjalanan mereka.

Penjelajahan di kawasan warisan dunia tersebut berlanjut dengan mengunjungi berbagai bangunan dan monumen bersejarah yang sarat nilai budaya. Di antaranya adalah Queen Victoria’s Fountain yang dibangun pada tahun 1901 oleh pemerintah Inggris, Muzium Belia Malaysia, Christ Church Melaka, serta sejumlah bangunan bersejarah lainnya yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Melaka. Setelah berkeliling dan membeli berbagai suvenir, rombongan berjalan kaki menuju replika kapal Flor de la Mar. Kapal Portugis legendaris ini memiliki peran penting dalam sejarah penaklukan Melaka pada tahun 1511. Menariknya, kapal asli Flor de la Mar diduga karam di sekitar perairan Sumatra, Indonesia, dan hingga kini lokasi bangkainya masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Tidak jauh dari replika Flor de la Mar, rombongan singgah di Medan Samudera yang ramai dipenuhi wisatawan dan pedagang cenderamata khas Melaka. Menjelang sore, para siswa dan guru melaksanakan ibadah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Masjid Selat Melaka atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Apung. Masjid yang dibangun di atas tiangtiang di perairan Selat Malaka ini tampak seolaholah terapung di atas laut. Keindahan arsitekturnya semakin memukau karena menghadap langsung ke hamparan laut yang luas. Dari area tertentu, para pengunjung dapat menikmati panorama Selat Malaka dari jarak yang sangat dekat, menjadikan tempat ini sebagai salah satu destinasi yang paling berkesan dalam perjalanan hari itu.

Setelah beribadah, rombongan kembali menaiki bus dan melanjutkan perjalanan menuju Kuala Lumpur. Waktu istirahat dimanfaatkan selama perjalanan hingga akhirnya mereka disambut gemerlap cahaya gedunggedung tinggi ibu kota Malaysia pada malam hari. Setibanya di Kuala Lumpur, rombongan menikmati makan malam bersama di Restoran D’Chow Kit yang menyajikan hidangan autentik Indonesia dan Malaysia dengan konsep prasmanan. “Setelah berjalan ribuan langkah sepanjang hari, makan terasa seperti surga,” ujar Naufal, salah seorang siswa Kelas IX. Perjalanan hari itu ditutup dengan makan malam bersama sebelum menuju hotel untuk beristirahat. Bagi para siswa, pengalaman tersebut bukan hanya tentang mengunjungi tempattempat bersejarah, tetapi juga tentang menciptakan kenangan bersama sahabatsahabat yang akan segera menempuh jalan masingmasing. “Hari ini sangat seru. Bagian yang paling berkesan adalah saat melihat bangunan dan monumen yang usianya jauh lebih tua daripada kakek saya. Namun, yang terbaik adalah menghabiskan waktu bersama temanteman sambil bermain dan bercanda karena momen seperti ini tidak dapat diulang dan hanya datang sekali dalam hidup,” ungkap Jefri, siswa Kelas IX.
Penulis: Haikal Farizi, siswa kelas IX Justicia Brandegeena



