
Tradisi Aceh dan Jepang: Inspirasi dalam Pertukaran Budaya
Kegiatan pertukaran budaya antara SD Sukma Bangsa Lhokseumawe dan SD Ekiyanishi Jepang melalui Zoom menjadi inisiatif yang relevan di era globalisasi. Acara yang berlangsung pada Senin, 20 Januari 2025, di ruang pertemuan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe ini melibatkan seluruh siswa kelas VI sebagai penyampai presentasi tentang budaya Aceh. Mengacu pada keberhasilan program serupa di tahun sebelumnya, tahun ini SD Sukma Bangsa Lhokseumawe turut mengundang perwakilan dari beberapa sekolah lain untuk berpartisipasi. Sementara itu, siswa kelas 3, 4, dan 5 ikut menyaksikan jalannya acara dari ruang kelas masing-masing.

Salah satu topik utama dalam pertemuan ini adalah sirih hias Aceh, yang tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan estetika yang kaya. Para siswa menjelaskan bahwa sirih hias kerap digunakan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, sebagai simbol penghormatan kepada tamu serta lambang kesopanan. Sebelumnya, mereka telah mempelajari cara membuat sirih hias melalui class project di sekolah. Dalam presentasi ini, mereka menampilkan video proses pembuatannya dan memperlihatkan secara langsung model sirih hias berbentuk topi Aceh. Para siswa Jepang tampak kagum melihat hasil kreativitas berbahan dasar daun sirih tersebut. Selain memperkenalkan budaya lokal, kegiatan ini juga menjadi ajang bagi siswa untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris mereka.

Di sisi lain, siswa SD Ekiyanishi memperkenalkan Fukuyama, sebuah kota di Jepang yang terkenal dengan keindahan alam dan warisan budayanya. Mereka menjelaskan berbagai atraksi utama, seperti Kastil Fukuyama yang megah, makanan khas seperti Kuwai dan Uzumi, serta seni tari dan alat musik tradisional. Selain itu, mereka membagikan pengalaman mereka dalam mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana di sekolah. Antusiasme mereka terlihat dari video yang dibuat oleh siswa kelas 1 hingga kelas 5, yang menampilkan tarian, nyanyian, permainan alat musik, permainan tradisional, serta penggunaan bahasa isyarat.
Setelah sesi presentasi, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi, menciptakan suasana pembelajaran yang lebih hidup dan interaktif. Mereka juga saling memberikan komentar positif serta mengungkapkan kekaguman terhadap keunikan budaya masing-masing. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan budaya, tetapi juga efektif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris siswa.
![]()
Melihat teman-teman sebaya mereka berbicara dalam bahasa Inggris turut memotivasi siswa untuk lebih percaya diri dalam belajar. Inisiatif ini menunjukkan bahwa meskipun terpisah secara geografis, siswa tetap dapat terhubung dan saling belajar. Oleh karena itu, program pertukaran budaya semacam ini patut terus dikembangkan agar siswa dapat memperluas wawasan serta semakin menghargai keberagaman budaya dunia.
Penulis: Nanda Safitri, S.Pd (Guru Kelas SDS Sukma Bangsa Lhokseumawe)



