
Bukber Penuh Syukur: Kisah Kebersamaan Ifthar di Sekolah Sukma Bangsa
20 Ramadan 1447 H, Senja perlahan turun, menyelimuti langit dengan warna jingga yang lembut. Angin sore berhembus pelan, membawa ketenangan yang khas di bulan suci Ramadan. Di tengah selasar sekolah yang luas, para siswa, guru, dan seluruh keluarga besar Sukma Bangsa Lhokseumawe berkumpul dalam satu rasa yang sama yaitu menunggu azan magrib tiba. Bulan Ramadan selalu mendatangkan kehangatan yang berbeda. Ia tidak hanya mengajarkan tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur, kebersamaan, dan kasih sayang. Pada sore itu, suasana terasa begitu hangat ketika keluarga besar Sukma Bangsa duduk bersama dalam acara ifthar (buka puasa bersama). Terlihat tampak wajah-wajah penuh harap dan kebahagiaan. Terdengar tawa-tawa kecil dari seluruh yang hadir, tidak ada jarak di antara mereka. Semua menyatu dalam satu keluarga besar yang saling menguatkan.


Detik-detik selanjutnya terdengar azan magrib berkumandang, lantunan yang dinantikan oleh seluruh orang yang berpuasa. Dalam sekejap, senyum-senyum merekah. Doa-doa dipanjatkan dengan sangat khusyuk. Tangan-tangan yang kini meraih hidangan di hadapan mereka. Segelas air dan makanan menjadi saksi betapa indahnya rasa syukur setelah seharian berpuasa. Namun lebih dari sekadar makanan, yang paling terasa pada momen itu adalah kehangatan kebersamaan. Duduk berdampingan, berbagi cerita, tertawa kecil, dan saling menyapa membuat suasana terasa begitu dekat di hati.
Seakan-akan kegiatan ifthar ingin mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal yang sederhana yaitu indahnya kebersamaan, kepedulian, dan rasa saling memiliki. Buka puasa bersama ini bukan hanya sebuah acara seremonial. Ia adalah ruang untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat rasa kekeluargaan, dan menumbuhkan nilai-nilai kebaikan dalam diri setiap siswa. Di sinilah para siswa belajar bahwa sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah kedua yang me-numbuhkan rasa persaudaraan. Ketika kegiatan perlahan usai, mungkin yang akan paling lama tersimpan bukanlah makanan yang dilahap, melainkan kenangan hangat yang tercipta. Kenangan yang diciptakan dari canda tawa bersama teman-teman.
Bulan Ramadan selalu datang membawa pesan yang sama. Bahwa di tengah kesibukan dan perbedaan, kita tetap bisa duduk bersama, saling menghargai, dan merasakan hangatnya persaudaraan. Dan di sore yang penuh berkah itu, keluarga besar Sukma Bangsa sekali lagi membuktikan bahwa kebersamaan adalah nikmat yang tak ternilai, sebuah cahaya kecil yang membuat bulan Ramadan terasa semakin indah.
Penulis: Kanaya Azizia, siswi kelas VIII Passiflora Edulis



