
“Ruang Aman Bernama Teman: Refleksi Konselor Teman Sebaya 2024–2025”
Program Konselor Teman Sebaya (KTS) Tahun Ajaran 2024–2025 hadir sebagai ruang pembelajaran yang bermakna bagi siswa dalam mengenali diri, mengasah empati, serta belajar bagi sesama. Akhir masa tugas ditandai dengan pemberian tautan refleksi kepada seluruh siswa KTS sebagai media untuk menuliskan pengalaman mereka secara jujur dan mendalam. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, konselor sekolah mengadakan pertemuan bersama seluruh siswa KTS pada hari Selasa, 27 Januari 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman secara langsung, saling menguatkan, serta merefleksikan perjalanan yang telah dilalui bersama. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh rasa syukur atas proses yang telah dijalani.

Refleksi tersebut disusun berdasarkan pertanyaan pemantik yang membantu siswa menelusuri proses, perasaan, tantangan, dan nilai yang diperoleh selama menjalankan peran sebagai KTS. Hasil refleksi tertulis menunjukkan proses pengenalan diri yang signifikan. Peran sebagai KTS membantu siswa menyadari potensi yang sebelumnya belum disadari, khususnya dalam hal mendengarkan, memahami emosi orang lain, dan membangun kepercayaan.
Kesadaran bahwa keberanian dan kepercayaan diri dapat tumbuh melalui proses menjadi pengalaman penting yang membentuk sikap penerimaan diri serta kerendahan hati untuk terus belajar.

Perjalanan menjalankan peran KTS turut memengaruhi cara siswa berinteraksi dengan teman. Komunikasi berkembang menjadi lebih tenang, terbuka, dan penuh empati. Pemahaman bahwa mendengarkan tanpa menghakimi memiliki dampak besar bagi perasaan orang lain semakin menguat. Perubahan sikap tersebut tidak hanya terasa dalam konteks konseling teman sebaya, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Cerita paling berkesan muncul ketika siswa dipercaya menjadi tempat bercerita. Rasa haru, bangga, dan syukur hadir saat melihat teman merasa lebih lega setelah berbagi pengalaman. Kepercayaan yang diberikan tersebut menegaskan bahwa peran KTS memiliki makna nyata dan dibutuhkan sebagai ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan serta menghadapi persoalan yang dialami.
Proses tersebut juga diiringi berbagai tantangan. Kesulitan memahami cerita yang kompleks, kebingungan menentukan respons yang tepat, serta dilema ketika permasalahan teman memerlukan keterlibatan orang dewasa menjadi bagian dari pengalaman belajar. Tantangan ini membantu siswa memahami batas peran sekaligus pentingnya kolaborasi dengan guru dan konselor demi kebaikan bersama. Pengalaman menjaga kepercayaan dan rahasia teman memunculkan dinamika emosional yang kuat. Rasa bangga berjalan beriringan dengan kegugupan dan tanggung jawab yang besar. Proses tersebut menumbuhkan pemahaman tentang amanah, integritas, dan kehati-hatian dalam bersikap. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting yang diharapkan tetap melekat setelah masa tugas KTS berakhir.

Dari kegiatan refleksi ini, disadari bahwa keberadaan KTS memberikan dampak positif bagi iklim sekolah. Ruang bercerita yang aman dan sebaya membantu siswa menyalurkan perasaan tanpa rasa takut. Deteksi awal terhadap permasalahan siswa menjadi lebih memungkinkan, sehingga suasana sekolah terasa lebih suportif dan hubungan antarsiswa semakin hangat. Penutupan kegiatan diwarnai dengan saling mengucapkan terima kasih. Apresiasi disampaikan konselor kepada siswa KTS atas komitmen dan kepedulian yang telah ditunjukkan. Ungkapan terima kasih juga disampaikan siswa KTS kepada konselor dan pihak sekolah atas kepercayaan serta pendampingan yang diberikan. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya masa tugas KTS periode 2025–2026 sekaligus awal untuk membawa nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab ke dalam kehidupan selanjutnya.
Penulis: Aulia Denisa Putri, S. Psi., Konselor Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe



