
PESONA BUDAYA TANAH RENCONG
Namaku Cut, sebagai pelajar kelas sepuluh yang dibesarkan ditanah Aceh, aku terbiasa mendengar sebutan Tanah Rencong untuk kampung halamanku. Dulu, aku mengira rencong hanyalah senjata khas daerahku. Namun semakin dewasa, aku memahami bahwa Aceh tidak hanya dikenal karena sejarah dan perlawanannya, melainkan tanah yang kaya akan tradisi dan kebudayaan.
Hari itu sekolah mengadakan program khusus tentang budaya Aceh. Masing-masing kelompok wajib menunjuk-
kan satu tradisi Aceh. Aku dan sahabat-sahabatku memutuskan untuk mempersembahkan tarian daerah, yaitu Tari Saman dari Gayo Lues.

Setiap sore aula sekolah menjadi tempat latihan kami. Tepukan yang kompak disertai lantunan syair gayo menimbul-
kan rasa takjub dalam diriku. Tanpa iringan musik, hanya tepukan, latunan suara, dan kekompakan para penari. Pelatih kami menjelaskan bahwa Tari Saman bukan sekadar pertunjukan, tetapi lambang kebersamaan. Pada momen itu, aku merasakan kebanggaan, sebab dari kekompakan gerakan yang sederhana terlihat jelas betapa orang Aceh menghargai kebersamaan.
Tidak hanya menampilkan tarian, kami juga ditugaskan untuk membawa pakaian adat sebagai pelengkap. Aku me-
makai baju kurung merah berhias emas. Ibu membantuku memasang aksesori kepala hingga penampilanku tampak lebih anggun dari biasanya. Ketika bercermin, aku merasa sedang menatap bukan hanya diriku sendiri, tetapi juga peninggalan tradisi dari generasi sebelumnya.
Salah satu temanku membawa kupiah meukeutop dan rencong milik ayahnya. Ia menjelaskan bahwa rencong melambangkan keberanian serta kehormatan masyarakat Aceh.Kami pun menyiapkan hidangan tradisional untuk di-
pajang. Tersedia kuah pliek u dan timphan yang terbungkus rapi dalam daun pisang. Harumnya menyebar ke seluruh ruangan hingga menarik perhatian orang yang melintas.
Saat hari pertunjukan tiba, aula sekolah dipadati para siswa dan guru. Setiap kelompok menampilkan tradisi berbeda. Saat tiba giliran kami, jantungku berdegup tak menentu. Namun begitu irama tepukan dimulai, rasa cemas perlahan menghilang. Kami menari dengan penuh keyakinan.
Usai penampilan kami, gemuruh apresiasi terdengar di seluruh aula. Guruku tersenyum bangga melihat kami. Saat itu aku memahami bahwa budaya bukan hanya bahan bacaan, tetapi bagian dari diri dan sejarah yang harus dirawat.
Hari itu aku kembali ke rumah dengan hati yang penuh kehangatan. Kekayaan budaya Aceh, baik dalam seni, busana, maupun kuliner, bukanlah sekadar cerita dari masa silam. Itulah hal-hal yang menjadikan hidup kami terasa lebih berharga. Sebagai generasi sekarang, aku ingin terus merawat dan mempertahankan budaya ini agar keindahan Aceh tidak pernah pudar. [Jihan Rizkina Marsya, XI Euphrates]
Tag:ruang budaya



