
Langkah Berat di Hari Kemenangan

Suara takbir terdengar jelas dari masjid yang sebagian dari dindingnya masih menyisakan noda cokelat. Beberapa bulan lalu, banjir telah menerjang Kota Takengon. Meskipun matahari sudah terbit pada satu Syawal, namun air meninggalkan lumpur dan aroma lembap yang menusuk. Yang membuat para jemaah salat Id sedikit terganggu karena baunya mengganggu.
Di rumah Pak Aska, tidak ada karpet dan makanan mewah yang biasanya menyambut tamu. Hanya ada lantai semen dan makanan sangat sederhana yang tersisa. Kursi tamu miliknya pun masih dijemur di halaman rumah, bersandar pasrah pada pagar yang miring. Begitupun dengan meja tamu.
Pak Aska merapikan koko putihnya yang sedikit menguning karena rendaman banjir sembari menunggu anak dan istrinya yang sedang ada di dapur untuk melakukan kegiatan rutin yang biasanya kita semua lakukan saat lebaran, yaitu Halal Bi Halal. Meskipun lebaran kali ini terasa sangat berbeda, namun jiwa saling memaafkan tak pernah pudar dalam diri Pak Aska. Pak Aska sangat menyayangi anak dan istrinya. Mereka telah menerjang ombak banjir secara bersamaan pada saat itu.
Tak ada daging, Pak Aska hanya memakan nasi dengan telur sisa pemberian bantuan dari beberapa posko. Saat Pak RT berkunjung ke rumah Pak Aska, yang biasa mereka pamerkan adalah menu makanan, tahun ini percakapan berubah menjadi “Mesin cucimu sudah diperbaiki?” atau “Alhamdulillah istri dan anak selamat”. Mereka juga membahas cara mengatasi banjir untuk ke depannya yang dapat dilakukan sedari sekarang, seperti menjaga kebersihan lingkungan, periksa dan bersihkan saluran air secara rutin, tanam pohon untuk mengurangi risiko longsor, serta membangun infrastruktur yang memadai dan kokoh.
Lebaran kali ini bukan tentang baju baru ataupun toples kue yang penuh. Lebaran kali ini adalah tentang kemenangan bertahan hidup. Harta dapat hanyut dalam semalam, namun perhatian dan kasih sayang adalah “fitrah”. Di atas lantai yang masih licin nan lembab itu, doa yang dipanjatkan terasa khusyuk dan pelukan serta maaf terasa lebih tulus.
Penulis: Safna Ilmi, siswi kelas X Congo



