
Dari Dentuman Rapa’i, Tumbuh Cinta Budaya
Kegiatan Guest Teacher pada mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) kelas VI menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya bermakna, tetapi juga menginspirasi. Melalui materi mengenal dan bermain alat musik tradisional Aceh, rapa’i, peserta didik diajak menyelami kekayaan budaya daerah secara langsung. Suasana pembelajaran terasa berbeda, lebih hidup, interaktif, dan penuh semangat, karena siswa tidak hanya belajar, tetapi juga mengalami langsung proses berkesenian.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber, Zaki Munandar, yang dikenal dengan nama Om Jack, seorang penabuh rapa’i sekaligus ketua Sanggar Poh Cakra di Lhoksukon, Aceh Utara, yang ber-pengalaman. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, beliau mampu menyampaikan materi secara jelas, menarik, dan mudah dipahami oleh peserta didik. Beliau membuka wawasan siswa melalui penjelasan sejarah rapa’i yang erat kaitannya dengan penyebaran Islam di Aceh, khususnya di wilayah pesisir seperti Aceh Besar.


Rapa’i berkembang melalui pengaruh ajaran Syekh Ahmad Rifa’i (Rifa’iyah) dari Timur Tengah yang memanfaatkan duf atau dufun dalam bahasa Arab sebagai media dakwah. Seiring waktu, alat musik ini bertransformasi menjadi rapa’i yang diambil dari nama Rifa’i. Alat musik tradisional ini dikenal sebagai bagian penting dari identitas budaya Aceh. Memasuki sesi praktik, suasana kelas berubah menjadi lebih dinamis. Narasumber memperagakan teknik dasar memainkan rapa’i melalui pola bunyi “bum”, “tang”, “cik”, dan “crop” yang khas. Dengan penuh antusias, peserta didik dipanggil secara berkelompok untuk tampil ke depan dan mencoba satu irama dasar.
Momen ini tidak hanya melatih keterampilan musikal, tetapi juga menumbuhkan keberanian, kekompakan, serta rasa percaya diri siswa dalam mengekspresikan diri. Lebih dari sekadar alat musik, rapa’i diperkenalkan sebagai media dakwah yang sarat makna. Syair-syair yang dilantunkan me-ngandung pesan moral dan nasihat, sementara irama rapa’i berfungsi sebagai penguat dan pemanis yang memperindah penyampaian pesan tersebut. Pemahaman ini membuka perspektif baru bagi peserta didik bahwa seni dapat menjadi sarana efektif dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan membangun karakter.


Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias, ditandai dengan keaktifan siswa dalam bertanya, mencoba, dan berpartisipasi. Di akhir kegiatan, disampaikan harapan agar peserta didik tidak hanya memahami, tetapi juga mampu menjaga dan memperkenalkan budaya daerah. Bahkan, ketika suatu saat mereka berada di luar daerah maupun luar negeri, mereka diharapkan dapat dengan bangga memperkenalkan rapa’i sebagai salah satu warisan budaya Aceh kepada dunia. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang mampu menyentuh pengalaman, emosi, dan kebanggaan peserta didik terhadap budayanya sendiri.
Penulis: Sauzan Tahira, S.Pd., guru SDS Sukma Bangsa Lhokseumawe



