
Membangun Ikatan, Melawan Kesibukan Akademik: Refleksi Kegiatan Team Building
Hari Rabu, 1 Oktober 2025, menjadi momen istimewa ketika Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe meng-gelar kegiatan “Team Building” bagi seluruh siswa kelas X. Acara tahunan yang bertujuan memper-erat keakraban ini berlangsung di selasar sekolah tepat usai jam istirahat. Pada permulaannya, semua peserta dikelompokkan secara acak ke dalam dua belas tim. Aku pun ditempatkan dalam satu kelompok dengan beberapa orang yang belum terlalu dekat.
Permainan pertama bernama “Sarung Sprint Bola”. Setiap tim harus bekerja sama memegang sarung dengan kuat agar bola yang diletakkan di atas gelas plastik tidak terjatuh saat dipindahkan. Tujuannya adalah mengumpulkan bola sebanyak-banyaknya ke dalam keranjang. Sebelum pertandingan dimulai, aku berusaha menyusun strategi untuk mengungguli kelompok lain. Suasana selasar pun riuh oleh sorak-sorai dan tawa peserta seiring dimulainya permainan. Meski kelompok kami hanya berhasil mengumpulkan satu bola dan tak meraih juara, kebahagiaan tetap terpancar dari tawa kami yang tak henti, sampai-sampai kami hampir lupa bahwa permainan kedua akan segera dimulai.

Awalnya aku bertanya-tanya ketika melihat pemandu acara kembali membagi kelompok secara berbeda. Ternyata, setiap permainan menggunakan pengelompokan yang baru. Hatiku merasa lega karena cara ini memung-kinkanku untuk berkenalan dengan lebih banyak teman. Tak lama kemudian, permainan kedua “Estafet Bola Cepat” pun dimulai. Aturannya sederhana: memindahkan bola dari keranjang melalui operan berantai hingga ke anggota paling belakang, yang kemudian menggelin-dingkannya kembali ke depan untuk dimasukkan ke ke-ranjang. Dalam ketegangan yang menyenangkan, kelom-pok kami akhirnya meraih peringkat ketiga.
Untuk permainan terakhir, kami kembali dikelompokkan secara acak. Kali ini, yang dilatih bukan fisik, melainkan konsentrasi dan imajinasi melalui “Estafet Gambar Punggung”. Aku bersyukur berada dalam kelompok yang seluruhnya perempuan, sehingga tak ada rasa canggung saat harus menggambar di punggung satu sama lain. Suasana hening seketika menyelimuti sela-sar saat permainan dimulai. Masing-masing tim ber-usaha fokus meneruskan gambar yang dibisikkan kepa-da anggota paling belakang. Saat punggungku disentuh, aku berusaha berkonsentrasi dan membayangkan bentuk yang digambarkan—menurut imajinasi-ku, itu pastilah seekor kepiting! Dengan penuh keyakinan, kuteruskan gambar “kepiting” itu ke teman di depanku: bentuk bulat dengan banyak kaki dan mata seperti antena. Namun, keyakinan itu berubah menjadi pe-nyesalan ketika akhirnya terungkap bahwa gambar sebenarnya adalah kura-kura! Kelompokku hanya bisa terdiam memikirkan bagaimana mungkin kura-kura bisa berubah menjadi matahari, sebelum akhirnya kami semua tertawa terbahak-bahak menyadari lucunya ke-salahan tersebut.
Sebelum pembagian hadiah, kami duduk melingkar untuk sesi refleksi dengan sejumlah pertanyaan tentang pertemanan dan kesan terhadap kegiatan hari itu. Pertanyaan-pertanyaannya sangat mendalam, menyi-nggung cara menjaga pertemanan yang sehat dan komitmen seperti apa yang bisa kami berikan sebagai seorang teman. Saat mendengarkan jawaban dari beberapa peserta, aku tersadar betapa banyak pela-jaran berharga yang kudapat hari ini: kerja sama tim, pentingnya komunikasi, dan kesempatan bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda latar. Kegiatan semacam ini sangat kuharapkan dapat terus berlanjut di tengah kesibukan akademik yang kerap membatasi interaksi kami.
Penulis: Ahsha Fajri Lathifa, Siswa kelas X Congo



