
Sakit Gigi

Rafa mempunyai hobi makan. Dia sangat senang bila makanannya banyak. Satu kali makan, piringnya pe-nuh. Nafsu makannya tinggi sekali. Makanan kesu-kaannya adalah jajan-jajanan. Dia suka sekali jajan. Uang jajannya sehari sebanyak 30 ribu. Bila hari ekskul, jajannya 50 ribu sehari. Dia kadang-kadang beli nasi tetapi paling sering dia beli cokelat batang, makanya ngga bikin kenyang.
Pada suatu hari Rafa membeli 12 buah permen untuk dimakan di rumah. Setelah ganti baju dia langsung memakan permen tersebut. Setelah permen habis dia pun tertidur lelap. Sorenya dia terbangun, namun dia merasa ada yang aneh. Pipinya bengkak dan giginya sakit. Dia berteriak sambil menangis. Ibu kaget men-dengar Rafa berteriak sekeras itu. Sebelumnya tidak pernah seperti itu.
Ibu bertanya pada Rafa apa yang terjadi. Dia berkata bahwa giginya sakit. Ibu menyuruh Rafa berganti pakaian dan bersiap ke dokter gigi. Rafa tidak mau karena takut giginya dicopot (dicabut) oleh dokter. Ibu bilang hanya diperiksa, tidak dicopot (dicabut). Rafa tetap tidak mau. Ibu berjanji, kalau Rafa berani akan dibelikan mobil remote control. Rafa tergoda dan akhirnya mau ke dokter gigi.
Sesampainya di sana, Rafa mengantri. Dia mendapat nomor antrean ke-12. Dia harus sabar menunggu. Akhirnya nama Rafa pun dipanggil. Dokter berkata bahwa gigi Rafa bolong dan harus sikat gigi dua kali sehari dan jika sudah tidak sakit harus dicopot (dicabut). Rafa diberi hadiah sikat gigi dan pasta gigi oleh dokter. Ibu berterima kasih pada dokter lalu mereka pulang. Dalam perjalanan pulang, Rafa merenung dan berjanji akan mengurangi jajan yang banyak dan akan sikat gigi secara rutin.
Punulis: Putroe Rizqan Hasanah, siswi kelas IV Polandia



