
Allah Tidak Hanya Memberi Sekaligus Menjaga
Dua pasang mata teduh itu menatapku sendu. Matanya seolah memberiku kekuatan, berkata dengan lirih “la tahzan innallaha ma’ana, aku yakin kamu kuat Hana.”
Hari itu di bawah langit yang ditaburi bintang, hijab mereka tertiup lembut angin malam. Aku dan sahabatku duduk berdampingan, bercerita dan tertawa bersama. Hingga akhirnya muncul pertanyaan di benakku “apa ibadahku masih kurang ya Aina?“ Aina menoleh menatapku.
Aku menghela nafas sebelum melanjutkan, “mengapa ya semua keinginanku belum terwujud, padahal aku selalu berusaha untuk sholat tepat waktu, bahkan menadahkan tangan disaat yang lainnya tertidur. Aku juga sering berpuasa sunah, tapi mengapa justru mereka yang lalai terhadap perintahnya malah mendapatkan apa yang mereka inginkan?“.
Kepalaku menunduk, tangisku belum pecah, namun terlihat jelas mataku yang berusaha menahan tangis dengan tangan mengepal di balik gamisku. Tanpa aba-aba Aina memeluk tubuhku yang bergetar, tangis pun pecah saat itu, dalam tangis aku mempertanyakan kembali tentang keadilan Allah pada diriku.
“Aina, mengapa Allah tidak mendengarku? Bukankah Ia Sang Maha As-Sami? Lalu mengapa dia melakukan itu padaku, bahkan ia mengambil orang yang aku cintai Aina, mengapa? Hiks-hiks“.
Aina seolah bisa merasakan apa yang aku alami. Dia ingat bagaimana Hana berusaha sembuh dari lukanya, saat orang yang dicintainya pergi meninggalkannya untuk selamanya, ia adalah ayah Hana cinta pertama bagi Hana.
Setelah merasa Hana sudah cukup tenang, Aina melepas pelukannya dan mengusap sisa air mata di pipi Hana. “Mungkin tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita, Hana“. Wajah yang semulanya menunduk kini menoleh menatap wajah teduh Aina. “Terkadang Allah mengabulkan keingginan kita dengan cara yang tidak kita mengerti”.
Hana membalikkan posisi duduknya untuk berhadapan dengan Aina, “kalau kita mengukur nikmat hanya dari hal-hal besar dan mewah maka makna nikmat itu akan menjadi berkurang jauh, dan jika nikmat hanya diukur dengan standar duniawi maka esensi nikmat itu akan menghilang. Jadi jangan lihat apa yang kita tidak punya. Sebaliknya lihat apa yang kita punya dan harus kita jaga saat ini. Karena nikmat bukan hanya soal materi atau gaya hidup, tapi segala hal kecil dalam hidup yang sering kita lupakan”
Hana terdiam, meresapi setiap kata yang diucapkan Aina. “Hasan al-Basri Rahimahullahu Taala menjelaskan bahwa manusia itu hanya kumpulan hari, dan masing-masing dari kita sebagai manusia punya pilihan tentang seperti apa hidup kita ingin dihabiskan. Kita tidak pernah tau Hana, mungkin Allah mencabut nikmat ibadah dari diri mereka sehingga mereka terlena dengan gemerlapnya dunia. Mereka yang mengabaikan panggilan azan, melupakan sedekah, tapi terlihat bahagia. Mungkin Allah sudah mematikan hati mereka dan mencabut nikmat iman dari hati mereka. Apa yang lebih mengerikan dari dicabutnya nikmat beriman kepada Allah? Sering kali terlintas dalam pikiran kita mengapa Allah belum juga mengabulkan doa kita. Mungkin Allah menunda memberikannya karena senang mendengar rayuan kita padanya. Allah itu al-Alim mungkin saja Allah tidak memberikan secara langsung karena Allah lebih tau apa yang baik untuk kita.”
Matanya menghangat dan basah menatap wajah Aina yang dipenuhi senyuman. Dan untaian kata itu menjadi kalimat mengakhiri malam itu. Terkesiap mata Hana tertuju pada kertas asing yang terhimpit di dalam album foto keluarganya. Tulisan singkat yang sangat dirindukan oleh Hana tertera di sana.
“Hana kalau suatu hari ayah harus pergi, ayah ingin Hana ada di samping ayah dan menggenggam tangan ayah. Ayah tidak takut mati, nak. Yang ayah takutkan hanya menutup mata tanpa melihat senyum Hana untuk terakhir kalinya”.
Tangis Hana pecah membaca surat terakhir yang diam-diam ditulis ayahnya. Hana menyesal menyalahkan Allah karena gagal meraih beasiswa ke luar negeri. Ia merasa doanya diabaikan. Namun malam itu Hana sadar doanya memang tidak dikabulkan, tapi justru karena itu dia tetap bisa berada di rumah, menemani ayah di hari-hari terakhirnya. Ia menutup wajah dengan tangis sesal. Allah tidak mengabulkan doa Hana tapi menjaga Hana dari rasa penyesalan. Allah tau apa yang terbaik untuknya sehingga Allah memberikan apa yang dibutuhkan oleh Hana.
Penulis: Zahra Nur Isra, Siswa kelas XI Kovasselva



