
ROAD TO ENGLAND
Di sebuah kota yang berada di Provinsi Aceh, Ibukota Ka-bupaten Aceh Tengah, Kota Takengon, hiduplah seorang gadis kecil yang berparas imut dan lucu bernama Tiara. Dia tinggal bersama kedua orang tua yang sangat menyayangi-nya, yaitu Pak Fachrudin dan Ibu Handayani. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di dekat Danau Lut Tawar. Tiara kecil bersekolah di sekolah dasar swasta yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tiara merupakan anak terpintar di sekolah tersebut. Setiap mengikuti ujian, pasti nilainya be-rada di atas angka 95. Hasil dari nilai-nilai ujian tersebut, ti-dak terlepas dari peran orang tua dan guru-nya yang selalu mendukung Tiara. Setelah 6 tahun berse-kolah di Sekolah Dasar, kemudian Tiara naik ke jenjang sekolah berikutnya, Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ia bersekolah di sekolah menengah pertama swasta yang berada dekat dengan tempat tinggalnya juga. Selama bersekolah di SMP tersebut, Tiara mendapatkan banyak teman-teman baik yang akrab dengannya, dan ia juga akrab dengan guru-guru yang mengajar di situ. Seperti biasa, Tiara selalu mendapatkan nilai diatas rata-rata saat mengikuti ulangan maupun ujian. Karena melihat kemampuan Tiara, teman-temannya pun menyarankan agar Tia-ra berkuliah di luar negeri. “Tiara, menurutku kamu sangat cocok untuk berkuliah ke luar negeri, seperti Jerman mungkin, atau di Inggris, biar kamu bisa bertemu dengan idolamu juga di sana, Ra.” Oh iya, semenjak Tiara ma-suk ke jenjang SMP, tidak seperti kebanyakan anak perempuan lain, Tiara sangat menyukai olahraga sepak bola dan dia ngefans banget sama “David Beckham”, walaupun ayahnya Tiara ngefans berat sama klub Liverpool. Tia-ra menyukai sepak bola karena mengikuti ayahnya yang juga menyukai olahraga sepak bola. “Hah? Kuliah ke luar negeri?? Pasti biayanya mahal dong”, balas Tiara. “Makanya kamu harus mencari informasi-informasi beasiswa ke luar negeri di internet, Tiara, pasti kamu akan mendapatkannya.”, balas temannya.
Tiara terdiam sejenak, saran temannya itu membuatnya berpikir, “Hmmmmmmm, baiklah, nanti aku akan mencari info beasiswa di internet saat dirumah nanti”. Sejak saat itu, pikiran untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri mulai tumbuh kuat di benak Tiara.
Sebelum memasuki masa SMA, Tiara sudah mempunyai rencana akan bersekolah di SMA Sukma Bangsa Lhok-seumawe, karena Tiara dan kedua orang tuanya akan pindah ke Kota Lhokseumawe, Kota yang berjarak sekitar 116 Kilometer dari Kota Takengon. Mereka pindah karena ayah Tiara mendapat tugas kerja baru disana. Bebera-pa minggu kemudian, Tiara dan kedua orang tuanya akhirnya pindah ke Kota Lhokseumawe. Seperti yang sudah direncanakan, dia bersekolah di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe. Pada hari pertama bersekolah di situ, dia la-ngsung akrab dengan teman-teman barunya. Setelah beberapa minggu bersekolah dia juga langsung dekat de-ngan guru-guru yang mengajarnya, dan dia mendapatkan banyak teman-teman baik yang selalu mendukungnya. Dia menjalankan hari-hari disekolahnya dengan sangat baik.
Hari Minggu, langit mendung, hujan mengguyur seluruh Kota Lhokseumawe. Tiara sedang berbaring di kasurnya yang berada di dekat jendela. Dia sedang memikirkan beasiswa yang akan diikutinya. “Duh, gak ketemu-ketemu nih beasiswa untuk kuliah di Inggris. Sudah berminggu-minggu aku mencarinya.” Kemudian ketika sedang nge-scroll Instagram, tiba-tiba muncul sebuah postingan, “Beasiswa untuk berkuliah di Inggris, anda bebas memilih universitas apa saja, Daftarkan Dirimu Segera!!” Tiara yang terkejut lalu berloncat-loncat di atas kasurnya, lalu ia memberitahu ke orang tuanya tentang beasiswa tersebut. “Apakah kamu yakin, Tiara? Inggris itu negara yang sa-ngat jauh dari Indonesia, budayanya juga tentu berbeda dengan kita. Ayah dan Ibumu khawatir. Jadi, kamu benar-benar ingin pergi ke sana?.” jawab Ayah Tiara. “Aku sudah beranjak dewasa, ayah. Aku pasti bisa menjaga diri di sana. Lagipula aku orangnya mudah berteman dan bergaul dengan orang lain.” balas Tiara.
Orang tua Tiara menghela nafas pelan sambal mengatakan, “Baiklah, jika memang itu keinginanmu, Tiara. Ayah dan Ibu mendukungmu. Tapi kamu harus janji untuk selalu memberi kabar, apa pun keadaanya.” Mendengar hal itu, wajah Tiara langsung berseri-seri. “Iya, aku berjanji.” Lalu Tiara kembali ke kamar dan membaca persyara-tannya. Ternyata persyaratannya cukup banyak, namun Tiara harus tetap mencoba.
Sudah beberapa minggu, akhirnya berkas Tiara sudah lengkap. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menekan tombol “submit” di laptopnya. Ayahnya yang sejak tadi memperhatikan dari pintu kamar masuk dan menepuk bahu Tiara. “Ayah bangga sama kamu, Nak. Kita tinggal berdoa sekarang”. Malam itu, Tiara tidur dengan perasaan campur aduk, antara harapan, ketakutan, dan rasa penasaran hasil seleksi. Hari demi hari berlalu. Tiara menjala-ni hidup seperti biasa. Sekolah, belajar, ngumpul dengan teman, tetapi dalam hatinya ia terus memikirkan pengu-muman beasiswa.
Suatu pagi, ketika Tiara sedang asyik bermain HP, muncul 1 notifikasi e-mail. “Congratulations, Tiara. You have been officially awarded the full scholarship to study in England.” “Ya Allah, aku lolos!” Tiara memeluk kedua orang tuanya erat-erat. Ibunya menangis, Ayahnya bangga dengan Tiara.
Beberapa minggu berikutnya penuh kesibukan, Tiara mengurus paspor, visa pelajar, daftar asrama, dan menyi-apkan dokumen-dokumen. Guru dan teman-teman Tiara memberi ucapan selamat dan membuat surprise untuk-nya. Malam sebelum berangkat, Ayahnya memanggil Tiara ke ruang tamu, “Ayah ingin mengatakan sesuatu nih yang belum kamu tahu.” Tiara membalas, “Apa itu?”. “Ayah sudah mengatur seseorang untuk menjemputmu di bandara Inggris nanti.” Balas ayahnya. “Siapa? Teman lama ayah di Inggris?” tebak Tiara. “Nanti kamu pasti akan tahu sendiri,” balas Ayahnya.
Setelah perjalanan Panjang belasan jam, pesawat Tiara mendarat di Bandara Heathrow, London. Udara dingin la-ngsung menyapa begitu ia keluar dari pintu kedatangan. Tiba-tiba terdengar suara dari depan. “Tiara Salsabila?” Tiara langsung menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pria berjaket hitam elegan, memakai topi, dan wajahnya nampak familiar. David Beckham. Legenda sepak bola itu tersenyum ramah, lalu melambaikan tangannya. “Hi, Tiara. I’m here to pick you up. Your father’s friend long time ago.” Tiara menjatuhkan kopernya. “Ha? Ini beneran Beckham…..”. “Come on, let me help you with the luggage.” Ia mengambil koper Tiara dan membawanya ke mo-bil. Tiara hanya bisa duduk terpaku didalam mobil. “You’re father told me you’are smart girl and very brave to stu-dy abroad.” Kata Beckham sambal melirik lewat spion. Tiara tersenyum malu. “Thank you, I still can’t believe you’re here.” Mobil itu melaju menembus jalanan London yang dipenuhi bangunan klasik dan lampu-lampu kota. Kehidupan baru resminya dimulai. Beckham akan menjadi paman yang menjaga Tiara selama ia berada di Inggris.
Penulis: Fathir Al-Farisi Nasution, siswa kelas XI Sao Fransisco



