
Simulasi Mitigasi Bencana Gempa Bumi
Kegiatan pembelajaran geografi di kelas X berlangsung berbeda dari biasanya. Pada Senin, 20 April 2026, sekolah menghadirkan guest teacher dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Lhokseumawe. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih kontekstual kepada siswa terkait mitigasi bencana alam, khususnya gempa bumi. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep secara teori, tetapi juga mendapatkan wawasan langsung dari praktisi kebencanaan.
Pemateri dalam kegiatan ini adalah Zainab Maryati, S.Psi., yang menjabat sebagai Penelaah Teknis Kebijakan di BPBD Kota Lhokseumawe. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan secara sistematis langkah-langkah mitigasi bencana gempa bumi, mulai dari sebelum, saat terjadi, hingga setelah bencana. Siswa diajak memahami pentingnya kesiapsiagaan, seperti mengenali jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga bencana, serta menjaga ketenangan ketika gempa terjadi.

Siswa mendapatkan pemahaman penting mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan saat dan setelah terjadi gempa bumi. Kegiatan ini semakin menarik dengan adanya simulasi bencana gempa bumi yang melibatkan seluruh siswa. Dalam simulasi tersebut, siswa mempraktikkan langsung langkah-langkah perlindungan diri dan evakuasi sesuai dengan arahan yang telah diberikan.
Simulasi dimulai dengan dibunyikannya suara sirene sebagai tanda terjadinya gempa bumi. Siswa diarahkan untuk melakukan prinsip utama, yaitu merunduk, berlindung, dan berpegangan (drop, cover, hold on). Di dalam ruangan, siswa dianjurkan untuk segera berlindung di bawah meja yang kuat guna menghindari risiko tertimpa benda jatuh. Selain itu, mereka juga diminta melindungi kepala menggunakan tangan, tas, atau benda lain yang tersedia. Pemateri menekankan pentingnya menjauhi jendela kaca, rak buku, serta benda gantung yang berpotensi membahayakan.

Sementara itu, bagi yang berada di luar ruangan, siswa diimbau untuk segera mencari tempat terbuka dan menjauh dari bangunan, tiang listrik, pohon, maupun papan mading. Siswa juga diberikan pemahaman tentang langkah-langkah pascabencana. Mereka diminta untuk segera memeriksa kondisi diri sendiri dan orang di sekitar, serta memberikan pertolongan pertama jika memungkinkan.
Selain itu, pemateri juga memaparkan prosedur evakuasi yang harus dilakukan secara terstruktur dan aman. Siswa diingatkan untuk melakukan evakuasi secara tertib setelah guncangan benar-benar berhenti. Ia menekankan pentingnya mengikuti arahan petugas serta tidak panik saat melakukan evakuasi. Materi lain yang menarik perhatian siswa adalah pengenalan konsep “prinsip 20-20-20”, panduan sederhana namun penting dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami.
Pemateri menjelaskan bahwa apabila guncangan gempa dirasakan selama 20 detik atau lebih, harus segera meningkatkan kewaspadaan karena berpotensi memicu tsunami. Setelah gempa berhenti, tersedia waktu sekitar 20 menit untuk melakukan evakuasi menuju tempat yang aman dengan ketinggian minimal 20 meter di atas permukaan laut sebagai titik aman.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang mitigasi bencana alam serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan generasi muda terhadap potensi bencana di wilayah Lhokseumawe dan Aceh pada umumnya.
Penulis Ikhwani, S.Pd., Gr, Guru IPS SMA Sukma Bangsa Lhokesumawe



