
BELAJAR JURNALISTIK DAN SIAGA BENCANA BERSAMA JURNALIS TAMU
Pada Selasa, 27 Januari 2026, SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia mengadakan kegiatan guest teacher dengan menghadirkan seorang jurnalis. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kepekaan dan kesiapsiagaan siswa terhadap tanda-tanda bencana melalui pemahaman teks berita. Jurnalis yang diundang adalah Putri Zuhra Furna, seorang jurnalis daring asal Lhokseumawe yang bernaung di Ajnn.Net (Aceh Journal Nation Network).
Guest teacher bersama Kak Putr, sapaan akrabnya diikuti oleh seluruh siswa kelas VII SMP Sukma Bangsa. Kegiatan berlangsung di dalam kelas secara bergiliran, mulai dari kelas Fuchsia Magellanica, Michelia Alba, Bougainvillea Glabra, hingga Delonix Regia. Agar materi dan pengalaman dapat tersampaikan secara maksimal, Kak Putri membagi sesi guest teacher ke dalam empat bagian.
Sesi pertama dimulai dengan pembukaan dan pemaparan materi bertajuk “Dasar-Dasar Jurnalistik”. Dalam sesi ini, Kak Putri menjelaskan beberapa pokok bahasan, seperti pentingnya jurnalistik, jenis-jenis berita, unsur 5W+1H, serta materi utama mengenai peran teks berita dalam kesiapsiagaan bencana. Dengan bantuan media presentasi, ia mengupas tuntas materi-materi tersebut. Di akhir pemaparan, Kak Putri juga menunjukkan berbagai foto dokumentasi yang merekam pengalaman langsungnya sebagai jurnalis selama tiga tahun terakhir.
Sesi kedua diisi dengan kegiatan tanya jawab dan diskusi. Kak Putri memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya sekaligus berdiskusi seputar dunia jurnalistik dan kaitannya dengan siaga bencana. Beragam pertanyaan diajukan, namun satu pertanyaan sederhana cukup menarik perhatiannya, yakni apakah menjadi jurnalis itu merepotkan. Dengan sabar, Kak Putri menjelaskan bahwa baginya profesi ini sangat menyenangkan. Ia bisa menjelajah dan bertemu banyak orang demi mendapatkan informasi yang akurat untuk sebuah berita. Ia juga mengaku bahwa menjadi jurnalis telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang peka dan cepat membaca situasi, terutama saat meliput berita bencana. Seluruh siswa tampak memahami penjelasan tersebut. Sesi tanya jawab pun ditutup dan dilanjutkan ke kegiatan berikutnya.
Sesi ketiga menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa. Kak Putri mengajak mereka untuk menulis berita sederhana tentang jalannya kegiatan guest teacher hari itu. Cukup dengan memuat unsur 5W+1H dan struktur yang tepat. Tantangan ini disambut antusias oleh siswa. Mereka segera mengambil kertas dan pena, lalu mulai mencatat informasi yang dapat melengkapi sebuah berita. Selama proses menulis, Kak Putri bersama guru Bahasa Indonesia berkeliling mendampingi, membaca, dan mencermati hasil tulisan siswa. Jika ditemukan bagian yang kurang tepat, Kak Putri segera memberikan koreksi agar siswa lebih paham. Sesi ini berjalan sangat menarik. Kak Putri sendiri mengaku bahwa berkeliling dan membaca puluhan berita karya siswa memberi pengalaman yang berbeda. Ia dapat melihat langsung bagaimana cara pandang siswa kelas VII terhadap suatu peristiwa. Ia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan apresiasi siswa terhadap proses lahirnya sebuah berita.
Akhirnya, sesi guest teacher bersama Kak Putri memasuki penghujung acara. Setelah semua hasil tulisan dikumpulkan, ia menyampaikan kesimpulan dan closing statement. “Terima kasih, kegiatan hari ini menambah pengalaman berharga lainnya bagi saya,” ujarnya. Para siswa pun serempak bersorak dan mengucapkan terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan. Sesi ditutup dengan salam perpisahan dan foto bersama Kak Putri dan seluruh siswa kelas VII.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat belajar secara langsung, intens, dan konkret dari seorang ahli di bidangnya, yakni jurnalis. Mereka dapat memahami betapa pentingnya peran berita dalam konteks kebencanaan, mulai dari sebelum hingga pascabencana. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu melatih siswa untuk lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar, sehingga dapat membentuk pribadi yang lebih empati dan tanggap terhadap berbagai peristiwa yang terjadi.
Penulis: Rayhanul Jannah, S.Pd, guru Bahasa Indonesia SMP Sukma Bangsa Lhoseumawe



