
Dari Kita untuk Mereka di Bulan Ramadan: “Di Balik Parsel Sederhana, Ada Hati yang Diam-Diam Disembuhkan”
Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa untuk memperbanyak ibadah dan momen untuk menebar kebaikan. Dalam semangat berbagi di bulan Ramadan, siswa-siswi serta OSIS Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe melaksanakan kembali kegiatan sosial sebagai program tahunan yang bertajuk Sukma Saweu Syedara, berupa pembagian parsel kepada anak-anak yatim yang berada di sekitar Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali rasa empati, kepedulian, dan kebersamaan terhadap sesama, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.

Proses persiapan membuat parsel menjadi perjalanan yang penuh makna. Prosesnya dipenuhi canda yang lembut, tawa yang sederhana dalam kebersamaan. Tangan-tangan yang tulus menyusun satu per satuisi parsel dan merangkai bingkisan dengan penuh kehangatan. Ada yang mengikat pita dan ada pula yang memastikan setiap isi parsel tersusun rapi, seolah ingin memberikan yang terbaik bagi mereka. Bukan sekedar menyusun makanan dan kebutuhan, tetapi juga menyelipkan doa dalam setiap lipatan plastik, menyematkan harapan di antara bungkusan sederhana, berharap menyampaikan kebahagian, dan mampu menjadi penawar hari-hari yang mungkin terasa berat yang kelak akan sampai kepada mereka nanti.
Lebih dari sekedar senyum, balasan doa-doa yang terucap dengan penuh ketulusan dari hati mereka menjadi momen yang begitu menyentuh. Kata-kata sederhana menjadi sangat luar biasa. Doa-doa itu tak hanya sekedar ungkapan terima kasih, tetapi juga mengingatkan bahwa yang diberikan mungkin tak seberapa, namun makna yang diterima jauh lebih besar, dan setiap kebaikan, sekecil apapun, akan kembali dengan cara yang tak terduga dan penuh berkah. Di antara momenmomen itu, ada pelajaran tentang syukur, dan arti berbagi sesungguhnya.
Parsel-parsel itu mungkin memang akan habis, isinya akan terpakai sebagai kebutuhan. Namun, rasa yang ditinggalkan tidak akan mudah hilang. Ia akan menjadi cerita yang indah yang akan terus diingat. Sama seperti rantai, tak terputus dan saling berikatan. Begitu juga kita, akan terus saling terikat dan terus mengalirkan kepedulian satu sama lain. Kegiatan ini pada akhirnya bukan sekadar tentang memberi, melainkan tentang memahami arti kebersamaan dan kemanusiaan. Bahwa di bulan yang penuh berkah ini, setiap kebaikan sekecil apa pun mampu menjadi pelipur, menjadi penguat, dan menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri. Dari langkah kecil ini, tumbuh harapan besar agar nilai-nilai kebaikan terus hidup, bahkan setelah Ramadan berlalu.
Penulis: Annisa, siswa kelas X Cano Cristales



