
Banjir Aceh: Luka Alam dan Pelajaran Kemanusiaan
Hujan deras yang turun tanpa henti selama beberapa ha-ri awalnya kami kira hanyalah hujan biasa. Setelah tiga hari hujan tak kunjung reda, kami melihat air telah meng-genangi lingkungan sekitar rumah. Selokan-selokan pun meluap akibat tersumbat, sehingga banjir tidak dapat di-hindari. Kami sempat berpikir bahwa banjir akan segera surut dan warga dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala. Akan tetapi, banjir kali ini menimbulkan kerusakan yang sangat parah dan merugikan banyak warga. Ba-nyak rumah rusak, kendaraan hanyut dan berserakan, serta akses jalan utama yang biasa digunakan untuk keluar-masuk kota terputus akibat derasnya arus banjir. Kondisi pascabanjir semakin memburuk dan tidak terken-dali.

Saat itu, kami melihat keluarga kami di Kuala Simpang yang rumahnya terdampak banjir. Beberapa rumah bah-kan dibobol oleh orang-orang yang kelaparan dan kehau-san. Pada saat itu, bantuan belum juga datang karena banyak pihak mengira banjir yang terjadi di Aceh masih dapat dikendalikan. Beruntung, peran media sosial sang-at membantu dalam menggerakkan solidaritas masya-rakat. Melalui penggalangan dana yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk para relawan dan tokoh ma-syarakat, bantuan mulai berdatangan. Donasi tersebut digunakan untuk menyediakan beras, makanan siap saji, telur, air bersih, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya.

Dari bencana banjir ini, saya mendapatkan pelajaran bahwa manusia merupakan makhluk yang lemah. Seba-gian penyebab terjadinya banjir tidak lepas dari ulah ma-nusia sendiri, seperti penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan hutan kehilangan kemampuannya dalam menyerap air secara maksimal. Akibatnya, air mengalir ke permukiman warga dan menyebabkan banjir.
Penulis: Felissa Sugiono Lim, siswi SMA kelas IX Viola Odorata



