
Dan aku tahu:
Dan aku tahu:
Pada akhirnya
Tidak ada yang benar-benar tinggal.
Langkah lenyap sebelum sempat menjadi jejak,
kata gugur sebelum sempat menjadi suara.
Dan aku tahu:
Pada akhirnya,
Yang kau sebut sebagai ‘aku’
Ialah delusi dalam kabut.
yang tak pernah benar-benar ada.
Hanya sesuatu yang hilang ketika pagi datang.
Dan aku tahu:
Pada akhirnya,
Ketiadaan itu nyata.
Suatu kehampaan yang kita peluk,
Yang kita lahap sampai piring mengkilap,
Namun, bagaimanapun ia tetap utuh
Dan aku tahu:
pada akhirnya,
yang kupeluk bukan siapa-siapa,
yang kupanggil bukan apa-apa,
yang menunggu di ujung jalan
Hanyalah ketiadaan itu sendiri.
[Risysya Zakia Azra, VIII Passiflora Edulis]




