
Gelap, Banjir, dan Untaian Doa
Akhir bulan November, hujan turun sangat deras di desaku. Sejak sore, aku duduk di depan rumah sambil melihat air di parit. Airnya mengalir cepat dan semakin tinggi. Aku tidak menyangka hujan itu akan membawa banjir ke rumahku. Malam hari udara terasa dingin. Aku tertidur ditemani suara hujan yang jatuh di atap rumah. Pagi harinya aku bangun dan hujan masih turun dengan deras. Tiba-tiba aku mendengar orang berteriak, “Banjir! Banjir!” Aku langsung melihat ke jalan. Jalanan sudah tertutup air seperti sungai. Banyak orang keluar rumah. Beberapa motor mogok karena air terlalu tinggi.

Aku segera masuk ke rumah untuk memberi tahu ummi dan abi. Saat masuk, aku kaget karena air sudah menggenangi lantai rumah. Abi berkata kami harus naik ke lantai dua agar lebih aman. Kami membawa barang seperlunya lalu tinggal di lantai atas sambil menunggu air surut. Saat sedang mengungsi, tiba-tiba lampu mati. Rumah menjadi gelap sekali. Ummi menyalakan senter dan HP, tetapi tidak ada sinyal. Malam hari terasa menakutkan karena gelap dan sunyi. Hari demi hari berlalu dan lampu belum juga menyala. Cahaya senter semakin redup karena baterainya hampir habis.
Dalam kondisi gelap sekalipun, ummi selalu memotivasi kami anak-anaknya agar tetap selalu bersyukur dan tidak boleh mengeluh. Kondisi gelap seperti ini tidak selalu kita rasakan dan bertahan lama. Hal ini terjadi karena faktor musibah banjir dan longsor yang menyebabkan tiang-tiang listrik terbawa arus air banjir. Ummi berpesan agar selalu kita berdoa kepada Allah SWT agar kondisi segera bisa membaik kembali.
Setiap selesai salat dan sebelum tidur, aku selalu berdoa kepada Allah SWT agar lampu segera hidup. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh dan penuh harapan. Keesokan paginya, aku terbangun dan mendengar abi berkata, “Alhamdulillah, lampunya sudah hidup.” Aku sangat senang dan bersyukur. Aku belajar bahwa doa bisa memberi harapan, meskipun saat keadaan terasa gelap dan menakutkan.
Penulis: Habib Arraziq, siswa kelas V Kroasia



