
Dari Sampah hingga Energi Alternatif, Science Expo 2026 Tampilkan Inovasi Siswa Kelas IX untuk Lingkungan
Isu lingkungan yang semakin kompleks, mulai dari persoalan sampah hingga ancaman perubahan iklim, mendorong siswa kelas IX untuk tidak sekadar memahami teori, tetapi juga menghadirkan solusi nyata. Hal ini tampak dalam gelaran Science Expo yang dilaksanakan pada 23 April 2026, sebagai puncak proyek akhir pembelajaran berbasis sains di sekolah. Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 15 tim yang terdiri dari 5 hingga 6 siswa terlibat aktif merancang dan mengembangkan berbagai produk ramah lingkungan.


Kegiatan diawali dari proses identifikasi masalah yang dilakukan siswa terhadap isu-isu lingkungan di sekitar mereka, khususnya terkait sampah, perubahan iklim (climate change), dan pemanasan global (global warming). Dari permasalahan tersebut, siswa kemudian bekerja secara kolaboratif untuk me-rancang solusi dalam bentuk produk inovatif yang aplikatif. Berbagai karya yang ditampilkan men-cerminkan kreativitas sekaligus pemahaman ilmiah siswa. Inovasi tersebut meliputi Kompor Tenaga Surya, Bioplastik, eco-enzyme, Biogas, ecopaving block, Sabun Ramah Lingkungan, hingga teknologi sederhana seperti Lampu Listrik Tenaga Air dan microbial fuel cell. Selain itu, siswa juga menghadirkan solusi berbasis konservasi seperti Biopori, Kompos, dan rainwater harvesting, serta produk ramah lingkungan lainnya seperti Bioetanol, eco-dyeing, starch box, dan Penjernih Air.


Secara tidak langsung, karya-karya tersebut me-nunjukkan bagaimana konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan alam terintegrasi dalam kehidupan nyata. Pemanfaatan energi alternatif seperti matahari, air, dan hasil proses biologis mencerminkan penerapan konsep energi dan perubahannya. Sementara itu, proses pembuatan produk seperti bioplastik, sabun, dan eco-enzyme menggambarkan peran reaksi kimia dan pemanfaatan bahan alami yang lebih aman bagi lingkungan. Di sisi lain, pemanfaatan mikroorganisme dalam pembuatan biogas, kompos, dan microbial fuel cell menunjukkan penerapan konsep biologi, khususnya peran makhluk hidup dalam proses dekomposisi dan siklus materi. Karya seperti biopori dan rainwater harvesting juga menegaskan pentingnya pemahaman tentang ekosistem serta upaya menjaga ke-seimbangan lingkungan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.


Setiap tim mempresentasikan hasil karya mereka di hadapan pengunjung dengan menjelaskan latar belakang masalah, proses pembuatan, hingga manfaat produk yang dihasilkan. Suasana pameran berlangsung interaktif, dengan siswa secara aktif berdiskusi dan menjawab pertanyaan dari pe-ngunjung. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda. “Kami belajar bahwa sains itu dekat dengan kehidupan. Dari masalah sederhana seperti sampah, ternyata bisa dikembangkan menjadi ide yang bermanfaat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar pameran, Science Expo 2026 menjadi bukti bahwa pembelajaran sains dapat diarahkan untuk menjawab tantangan nyata. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya dibentuk menjadi pembelajar yang aktif, tetapi juga individu yang peka terhadap lingkungan dan mampu berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Penulis: Ratna Sari, S.Si., Gr., guru IPA SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe



