
Pulih Pascabanjir
Hari pertama kembali ke sekolah pasca banjir menjadi momen penting bagi siswa untuk memulihkan diri, baik secara fisik maupun emosional. Sekolah menghadir-kan rangkaian kegiatan yang dirancang sebagai ruang aman, tempat siswa kembali merasa tenang, diterima, dan bersemangat untuk belajar bersama.

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan conditio-ning untuk membantu siswa beradaptasi kembali de-ngan suasana sekolah. Perlahan, siswa diarahkan me-nuju musala, sebuah ruang yang menjadi titik awal pe-nguatan batin. Melalui lantunan Asmaul Husna dan ce-ramah singkat, siswa diajak menenangkan hati, men-syukuri keselamatan, serta menumbuhkan harapan bahwa setiap ujian dapat dilalui bersama. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi pengalaman sulit yang telah terjadi.

Setelah beristirahat sejenak, siswa mengikuti kegiatan menonton video edukatif yang menggambarkan penga-laman dan pesan positif pasca bencana. Diskusi ringan pun dilakukan, memberi kesempatan bagi siswa untuk berbagi cerita dan perasaan. Khusus bagi siswa kelas rendah, kegiatan mewarnai menjadi media sederhana na-mun bermakna untuk mengekspresikan emosi yang mungkin belum mampu mereka sampaikan dengan kata-kata. Melalui warna dan gambar, siswa belajar mengenali dan menerima perasaan mereka sendiri.

Memasuki hari kedua, suasana kebersamaan semakin terasa. Kegiatan dimulai dengan pembacaan Surah Yasin, yang mengajak siswa untuk kembali menguatkan doa dan harapan. Conditioning kembali dilakukan agar siswa siap mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Senam sehat menjadi momen pelepas ketegangan, menghadir-kan tawa, gerak, dan energi positif yang menandai bangkitnya semangat siswa setelah masa sulit.
Kegiatan dilanjutkan dengan permainan yang disesuai-kan dengan jenjang kelas. Siswa kelas rendah mengi-kuti permainan “Gol Bola Mania” yang menumbuhkan keceriaan, kerja sama, dan rasa percaya diri. Semen-tara itu, siswa kelas tinggi mengikuti “Cup Menara Challenges” yang menantang mereka untuk bekerja sama, berpikir kreatif, dan saling mendukung dalam kelompok. Di sela-sela permainan, siswa belajar bah-wa kebersamaan dan saling membantu adalah kekua-tan utama dalam menghadapi kesulitan.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan selama dua hari ini menjadi proses pemulihan yang bermakna bagi siswa. Tidak hanya mengembalikan rutinitas sekolah, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan sosial mere-ka. Melalui doa, refleksi, gerak, dan permainan, siswa perlahan bangkit, menemukan kembali rasa aman, serta menumbuhkan harapan untuk melangkah ke hari-hari belajar berikutnya dengan senyum dan sema-ngat baru.
Penulis: Retna Aisyah Simahate, S.Psi.Konselor Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe



