
Banjir Menguji Alam, Menguatkan Sesama
Hujan yang terus turun tanpa jeda selama seminggu mengakibatkan datangnya bencana banjir, sungai meluap rumah terendam dan jalanan rusak. Ini adalah beberapa dampak yang terjadi di beberapa daerah di Aceh. Ben-cana yang terjadi pastinya membekaskan trauma kepada para masyarakat, di sisi lain kejadian ini memperta-nyakan rasa kemanusiaan kita untuk saling membantu masyarakat lain.

Sekolah Sukma pun menjawab pertanyaan tersebut dengan mengirimkan tim relawan yang berisi lima siswa dan empat guru yang bertujuan untuk mengirimkan bantuan kepada korban banjir. Tepatnya pada hari Senin tim ini bertujuan pergi ke Kabupaten Sawang. Pukul 07.30 WIB kami mengangkut barang ke mobil dan kami di briefing oleh Pak Zubir. Kemudian kami berangkat.
Pada awalnya jalanan dan pemukiman tampak sudah baik-baik saja, hal ini bisa terjadi karena kami masih bera-da di area kota yang jauh dari sungai dan memiliki sistem drainase yang lumayan baik. Keadaan di kota sangat berbanding terbalik dengan daerah Krung Mane yang menunjukkan banyak lumpur dan debu sepanjang jalan. Jadi saat di daerah Krung Mane kami menggunakan masker agar tidak menghirup debu yang beterbangan.
Tapi hal di Krung Mane itu baru tantangan awal, tantangan sebenarnya adalah perjalanan di Sawang untuk me-ngarah ke pos pengungsi, di sana jalanan sudah tidak tampak, lumpur dan jalan sudah tak ada bedanya. Sebe-narnya dalam perjalanan ini kami sedikit terhambat karena harus berhenti untuk menanyakan kepada warga lo-kasi pos pengungsian. Sesampainya di pos pertama rasa sedih meliputi hati kami, melihat warga disana hanya bisa menetap di menasah untuk beristirahat.

Sembako juga langsung kami turunkan ke menasah, kami juga mengobrol dengan orang-orang yang ada di pos, para warga di pos sangat berterimakasih dengan kami karna sudah datang, mereka juga mengantar kami ke pos pengungsian yang kedua. Pos kedua ini tidak jauh hanya saja jalanan untuk kesana sangat kecil, bahkan bukan diperuntukkan untuk mobil. Sesampainya di pos kedua kami hanya bisa melihat sungai yang membentang luas.
Ternyata mata kami tidak bohong, salah satu warga yang lewat bercerita sebenarnya sungai aslinya tidak luas dan pinggirannya adalah rumah warga namun karna hujan beberapa waktu lalu membuat sungai melebar dan arusnya menjadi sangat kencang hingga seperti lautan.
Setelah itu kami menurunkan semua sembako ke pos kedua. Ini adalah tujuan terakhir kami jadi setelah kami pamit dengan warga disana, kami langsung pergi pulang ke Lhokseumawe.
Penulis: Umam, siswa kelasIX Saraca Asoka,



